Makalah Surat Roma

BAB I
PENDAHULUAN

A.      LATAR BELAKANG
Surat ini ditulis oleh Rasul Paulus dengan tema “Keberanan Allah Yang Telah Dinyatakan”, sekitar tahun 57 SM. Surat Roma ini merupakan surat Paulus yang paling panjang, paling teologis, dan paling berpengaruh. Mungkin karena alasan-alasan itulah surat ini diletakkan di depan ketiga belas suratnya yang lain. Paulus menulis surat ini dalam rangka pelayanan rasulinya kepada dunia bukan Yahudi. Bertentangan dengan tradisi gereja Katolik-Roma, jemaat di Roma tidak didirikan oleh Petrus atau rasul yang lain. Jemaat di Roma ini mungkin didirikan oleh orang dari Makedonia dan Asia yang bertobat di bawah pelayanan Paulus, mungkin juga oleh orang-orang Yahudi yang bertobat pada hari Pentakosta (Kis 2:10). 
       Di surat Roma Paulus meyakinkan orang percaya di Roma bahwa dia sudah berkali-kali merencanakan untuk memberitakan Injil kepada mereka, namun hingga saat itu kedatangannya masih dihalangi (Rom 1:13-15; Rom 15:22). Dia menegaskan kerinduan yang sungguh untuk mengunjungi mereka sehingga menyatakan rencananya untuk datang dengan segera (Rom 15:23-32).
       Ketika menulis surat ini, menjelang akhir perjalanan misioner yang ketiga (bd. Rom 15:25-26; Kis 20:2-3; 1Kor 16:5-6), Paulus berada di Korintus di rumah Gayus (Rom 16:23; 1Kor 1:14). Sementara menulis surat ini melalui pembantunya Tertius (Rom 16:22), dia sedang merencanakan kembali ke Yerusalem untuk hari Pentakosta (Kis 20:16; sekitar musim semi tahun 57 atau 58 untuk menyampaikan secara pribadi persembahan dari gereja-gereja non-Yahudi kepada orang-orang kudus yang miskin di Yerusalem (Rom 15:25-27).







B.       RUANG LINGKUP
       Dalam Makalah ini saya hanya membahas tentang masalah konsep anugerah menurut Paulus tentang anugerah merupakan inisiatif Allah, anugerah berbentuk sebagai pembenaran oleh iman.

C.      TUJUAN PENULISAN
a.         Tujuan Umum:
Paulus menulis surat ini untuk mempersiapkan jalan bagi pelayanannya di Roma serta rencana pelayanan ke Spanyol:
·           Karena jemaat Roma rupanya mendengar kabar angin yang diputarbalikkan   mengenai berita dan ajaran Paulus (Rom 3:8; Rom 6:1-2,15), Paulus merasa perlu untuk menulis Injil yang telah diberitakannya selama dua puluh lima tahun.
·           Dia berusaha untuk memperbaiki beberapa persoalan yang terjadi di dalam
gereja karena sikap salah orang Yahudi terhadap mereka yang bukan Yahudi (mis. Rom 2:1-29; Rom 3:1,9) dan orang bukan Yahudi terhadap orang Yahudi (mis. Rom 11:11-36).
b.      Tujuan Khusus:
·           Supaya Mahasiswa/i memahami bahwa hanya anugerah Allah sajalah manusia diselamatkan bukan karena kebaikan dan kehebatanannya.
·           Setelah memahami tentang anugerah Allah yang besar dalam hidupnya, mahasiswa/i bisa dengan lebih leluasa mengekspresikan anugerah itu melalui hidupnya dalam pelayanannya sehari-hari.
·           Untuk membekali mahasiswa/i dalam pelayanannya.








BAB II
KONSEP ANUGERAH MENURUT PAULUS DALAM SURAT ROMA

            Anugerah yang dibahas oleh Paulus dalam surat Roma ini tidak berdiri sendiri tanpa hubungan dengan karya-karya Allah yang lainnya.  Sebaliknya, anugerah merupakan suatu kesatuan dari rentetan karya Allah dalam diri manusia yang akan dibahas pada bagian berikut ini.

A.      Anugerah Merupakan Inisiatif Allah
Dalam surat Roma Paulus menggunakan anugerah dalam dua bagian, yaitu pada bagian salam dan bagian penjelasan tentang keselamatan sebagai isi surat tersebut. Kalimat Paulus di dalam pembukaan surat ini merupakan bagian yang sangat penting untuk memahami dasar dan sumber anugerah yang dibicarakan Paulus di sepanjang Surat Roma ini.  Frase “dengan perantaraan-Nya” dalam ayat 17 mengacu kepada Tuhan Yesus Kristus yang sudah disebut terlebih dahulu di dalam kalimat sebelumnya.  Apa yang hendak di sampaikan oleh Paulus di sini adalah bahwa Rasul Paulus menerima anugerah maupun jabatan kerasulan itu dari Allah Bapa dengan perantaraan Yesus Kristus.  Khusus tentang anugerah dalam  Roma 1:1-7 ditafsirkan Barclay sebagai salah satu alasan yang disadari oleh Paulus mengapa ia mendapat pengkhususan dari Allah, ia telah dipilih dari antara manusia (Kis. 13:2). Sementara itu, Dunn melihat bahwa  anugerah dalam salam pembuka ini berfungsi sebagai berkat sekaligus memiliki maksud mempermuliakan Allah.  Lebih dari itu, kalimat “Kasih karunia  (anugerah) terhadap kamu dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, dan Tuhan Yesus Kristus” menunjukkan siapa sumber dari anugerah tersebut, yaitu Allah Bapa dan Tuhan Yesus Kristus.  Dunn menyatakan bahwa penting bagi kita untuk menangkap bahwa bagi Paulus, di balik seluruh proses keselamatan yang merupakan anugerah itu selalu terletak inisiatif Allah.   

B.       Anugerah Berbentuk Sebagai Pembenaran oleh Iman
      Tema pembenaran oleh iman yang diberikan kepada isi surat Roma oleh banyak  penafsir Roma seperti Martin Luther,  John Calvin, Karl Barth seperti yang sudah disebutkan pada bab sebelumnya merupakan sesuatu yang memang banyak dibicarakan oleh Paulus dalam surat Roma.  Pembicaraan yang tertuju kepada pembenaran oleh iman menguasai sebagian besar dari isi surat Roma ini, di samping penguraian tentang keyakinan doktrinal Paulus lainnya.  Tidak heran jika banyak sarjana yang menyebut  surat kepada jemaat di Roma ini sebagai surat yang sarat dengan pengajaran doktrinal.  Akan tetapi hal ini tidak berarti bahwa surat ini merupakan surat doktrinal, yaitu surat yang isinya berupa pokok-pokok pengajaran doktrinal secara umum dan bisa dialamatkan kepada siapa saja.  Surat Roma merupakan surat yang tertuju spesifik kepada jemaat Roma dengan situasi dan permasalahan khusus di Roma. Dengan demikian surat ini tergolong surat pengajaran sekaligus surat penggembalaan yang mengarahkan jemaat Roma kepada sebuah pemahaman doktrin pembenaran oleh iman.
      Di balik pemaparan pengajarannya, Paulus mengetahui  terlebih dahulu permasalahan di dalam jemaat Roma.  Paulus memiliki relasi yang dekat dengan orang-orang yang sangat mengerti keadaan Roma seperti Gayus, Erastus, Kwartus, dan orang-orang lain yang disebutkannya dalam salam kepada jemaat Roma (16:21-23).  Selain itu Paulus juga kenal dan punya relasi yang baik dengan Akwila dan Priskila.  Mereka adalah sepasang suami istri yang berasal dari Roma dan sudah meninggalkan Roma serta bertemu dengan Paulus (Kis. 18:1-2).  Kemungkinan besar Paulus mendapat informasi mengenai kondisi jemaat Roma dari mereka.
       Paulus menyampaikan pengajarannya dalam suatu penjelasan tentang relasi antara orang Yahudi dan non-Yahudi dalam rencana penebusan Allah.  Hal ini sesuai dengan tujuan surat ini, yaitu untuk mengajarkan hal mendasar tentang bagaimana seseorang bisa diselamatkan, di samping tujuan untuk mempersiapkan kedatangan Paulus ke Roma sekaligus menyampaikan rencananya untuk mengadakan perjalanan misi ke Spanyol (1:10-15; 15:22-29. Kejelasan akan relasi antara orang Yahudi dan non-Yahudi dari sudut pandang Allah sangat penting untuk dipaparkan oleh Paulus oleh karena jemaat Roma yang pada saat itu sudah dan sedang mengalami masalah berkenaan dengan relasi tersebut.  Di dalam jemaat Roma ada jemaat Yahudi yang masih membanggakan diri, di atas orang-orang non-Yahudi, sebagai orang yang khusus dengan memiliki dan melakukan hukum Taurat dan dengan sunat, dan  identitas seperti ini jelas terlihat dari Roma 2:17-24. Selain itu ada juga konflik di antara  golongan Yahudi dan non-Yahudi dalam jemaat Roma ini yang berkisar tentang makanan (ada yang makan daging, tapi ada yang hanya makan sayuran; 14:2), minuman (ada yang setuju minum anggur dan ada yang tidak; 14:21), dan hari-hari khusus (14:5).  Oleh sebab adanya konflik ini maka timbul masalah selanjutnya, yaitu yang seorang menganggap status diri dan kelompoknya lebih baik dari yang lain. 
       Berdasarkan kondisi jemaat yang seperti ini, maka Paulus dengan jelas memaparkan sebuah kebenaran yang patut diketahui oleh jemaat Roma berkenaan dengan pembenaran oleh iman.  Kebenaran tersebut menyangkut tiga hal utama,  yaitu bahwa semua manusia berdosa, hukum Taurat tidak bisa menyelamatkan, dan manusia dibenarkan oleh iman.

1.             Semua Manusia Berdosa
      Kondisi dan natur manusia yang berdosa merupakan fakta yang dipaparkan oleh
Paulus dalam  5:12-21.  Sebelumnya pada 1:18-2:20 Paulus sudah memperkenalkan kejahatan dan keberdosaan manusia.  Roger Bowen mengklasifikasi  1:18-3:20 menjadi dua bagian, yaitu 1:18-32 tentang ketidakbenaran orang-orang kafir (non-Yahudi dan 2:1-3:20 tentang ketidak-benaran orang-orang Yahudi. Dalam  pemaparan kondisi manusia yang berdosa ini, Paulus sering menggunakan kata hamartia dan paraptoma sebagai ungkapan bagi kata “dosa,” begitu juga dengan kata-kata lain dengan makna serupa seperti hamartano (berbuat dosa), hamartanos (pendosa), kakos (buruk) dan adikia (ketidak-benaran).
Gambaran  manusia berdosa secara universal beserta hukuman Allah yang menantinya sudah dipaparkan di bagian awal surat ini. Melalui pemaparan dosa dan murka Allah ini, Paulus menampilkan konsep kebenaran Allah.  Murka Allah terhadap dosa manusia merupakan manifestasi kebenaran Allah tersebut. Manusia tanpa terkecuali, baik Yahudi maupun bukan Yahudi, dalam Surat Roma ini diperhadapkan pada kenyataan bahwa  ia harus menghadapi penghukuman oeh karena “semua manusia telah berdosa” (Rm. 3:23). 
      Apa yang diungkapkan dalam 5:12  sebenarnya bukan merupakan tema yang berbeda dari pembicaraan pada bagian sebelumnya dari surat ini.  Ayat ini adalah penegasan terhadap pernyataan sebelumnya dalam 1:18-2:16, bahwa semua manusia berdosa.  Dalam bagian ini Paulus menggunakan figur Adam untuk menunjukkan keberdosaan manusia.  Pemakaian figur Adam dalam perikop ini kadang-kadang disalahpahami dengan anggapan bahwa nama ini mengacu kepada persoalan dosa keturunan.  Namun Adam pada bagian ini merupakan penggambaran bagaimana dosa masuk ke dalam dunia, yaitu melalui satu orang.  Adam merupakan tipologi dari manusia-manusia berikutnya yang  juga berdosa. Adam mengacu kepada satu sumber yang sama dari seluruh umat manusia di dunia pada segala zaman.  Satu keturunan yang sama membuat semua pihak yang saling membenarkan diri sadar bahwa mereka punya  hubungan satu sama lain dan punya status dan perilaku yang sama, yaitu sebagai orang berdosa.  Sebagaimana  Adam berdosa dalam pemberontakannya  terhadap Allah, demikian juga yang terjadi pada seluruh umat manusia, mereka memberontak terhadap Allah.  Sebagai akibatnya semua manusia menuju kepada satu tujuan yang sama pula, yaitu kematian atau maut sebagai upah dosanya.
      Manusia tidak berdaya terhadap dosa dan dosa mengantar manusia kepada akibat yang fatal.  Untuk menjelaskan hal ini Paulus menggunakan bentuk personifikasi.  Dosa dijelaskan sebagai kekuatan yang begitu menguasai manusia.  Manusia berada di bawah genggaman dosa sehingga tidak berdaya mengatasinya.  Melalui pengulangan kata “semua” pada perikop ini, Paulus terus menekankan bahwa bukan  hanya sekelompok orang yang berada di bawah genggaman dosa, melainkan semua. Melalui kalimat “dosa sudah ada sebelum hukum  Taurat ada” Paulus memperlihatkan bahwa dosa menyatakan kuasanya secara mandiri, terlepas dari hukum Taurat.  Dosa berkuasa atas setiap manusia tanpa membedakan apakah manusia itu adalah orang Yahudi atau bukan.  
      Keberdosaan merupakan perseteruan dengan Allah.  Oleh karena itu semua manusia, baik Yahudi maupun non-Yahudi, merupakan seteru Allah yang patut mendapatkan upah atau hukuman atas dosanya, yaitu kematian.  Kematian yang harus diterima bukan hanya kematian secara fisik, melainkan berlanjut kepada kematian kekal.  Tidak ada seorang pun yang lolos dari keterlibatan dengan dosa dan kematian.  Dosa dan kematian terus mendominasi kemanusiaan, bukan semata-mata  karena tindakan seseorang, tapi oleh karena semua umat manusia terus mendemonstrasikan dirinya berada di bawah dosa dan terpisah dari Allah.  Dengan demikian penjelasan Paulus mengenai keberdosaan manusia ini adalah bahwa sejarah umat manusia dicirikan dan ditentukan oleh pengaruh yang fatal dari dosa dan kematian.

2.  Hukum Taurat Tidak Menyelamatkan
     Dalam pola pikir orang Yahudi, hukum Taurat nampaknya bisa menjadi solusi bagi permasalahan dosa yang dihadapinya.  Akan tetapi, hukum Taurat sebenarnya sama sekali tidak menolong dan menyelamatkan manusia keluar dari kemelut dosa ini.  Hukum Taurat tidak membuat manusia terhindar dari murka Allah atas dosa manusia.  Alasan yang paling kuat untuk ini adalah karena hukum Taurat tidak diberikan kepada manusia supaya menyelamatkan manusia tersebut.  Hukum Taurat diberikan pada manusia untuk menyatakan, memperlihatkan dan mengkarakteristikan dosa pada manusia.
      Sebagaimana perkataan Paulus dalam 2:17, terlihat bahwa jemaat-jemaat Yahudi di Roma masih bersandar pada hukum Taurat.  Jemaat yang merupakan orang Yahudi ini bukan merupakan orang yang tidak beriman kepada Kristus ataupun hanya mengandalkan hukum Taurat.  Melalui ucapan syukur Paulus dalam 1:8 nampak bahwa jemaat Roma secara umum yang terdiri dari orang Yahudi dan non-Yahudi tersebut adalah jemaat yang sungguh-sungguh beriman kepada Kristus.  Namun dalam iman mereka kepada Kristus tersebut, jemaat Yahudi mengganggap bahwa hukum Taurat juga dibutuhkan untuk mencapai keselamatan tersebut.  Hukum Taurat sebagai pemberian Allah yang nyata membuat mereka merasa berbeda dari bangsa-bangsa lain oleh karena bangsa Yahudi “tahu” kehendak Allah dari hukum Taurat yang mereka miliki tersebut. Oleh sebab itu orang Kristen Yahudi merasa bangga dengan pengetahuan yang mereka miliki melalui hukum Taurat yang secara langsung berhubungan juga dengan bangga terhadap hukum Taurat dan usaha mereka menegakkan  hukum Taurat tersebut.
      Akan tetapi hukum Taurat tidak menyelamatkan.  Hal ini yang berulangkali ditegaskan oleh Paulus dalam 3:20.  Hukum Taurat bahkan berakibat kepada bertambahnya pelanggaran (5:20).  Hal ini disebabkan oleh karena fungsi hukum Taurat itu memang pada dasarnya bukan untuk menyelamatkan ataupun membenarkan manusia, melainkan untuk mendefinisikan dosa.  Godet mengatakan bahwa orang Yahudi mengklaim hukum Taurat sebagai sarana pendidikan dan keselamatan dalam sejarah umat manusia.  Untuk itu Paulus menunjukkan bahwa hukum Taurat hanya memainkan peranan sekunder.  Hukum Taurat disebut memiliki peran sekunder karena hukum Taurat hanya merupakan tambahan (5:20).
      Dalam 5:20 Paulus mengutarakan tujuan penambahan hukum Taurat dalam kehidupan manusia dengan cara menggunakan pilihan kata, tempus dan modus yang mendukung pengkomunikasian pemikirannya.  Dalam kalimat di ayat 20 ini Paulus menggunakan bentuk subjunctive aorist yang didahului oleh kata “I`na” (hina) bagi kata kerja “pleonash” (pleonase) yang berarti “bertambah”. Sesuai dengan aturan gramatikal Yunani, subjunctive yang didahului oleh “I`na” membentuk sebuah purpose clause (klausa yang menyatakan tujuan). Dengan demikian pelanggaran yang bertambah merupakan tujuan dari hadirnya hukum Taurat.  Selain itu, melalui bentuk subjunctive aorist yang mengacu kepada kejadian di masa yang akan datang, ekspresi kemungkinan bertambahnya pelanggaran dinyatakan dengan tegas.  Artinya, peristiwa masuk atau hadirnya hukum Taurat yang terjadi satu kali di masa lampau bertujuan untuk menambah pelanggaran di masa setelah hukum Taurat itu tiba.        
      Dalam realitanya, memang sesudah hukum Taurat diberikan, pelanggaran tidak menjadi berkurang, tapi makin bertambah karena hukum Taurat menyediakan kesempatan untuk pelanggaran atas berbagai perintah yang spesifik. Berkenaan dengan hal ini Charles Spurgeon mengatakan bahwa kesalahannya bukan terletak pada hukum Taurat, namun pada kejahatan hati manusia yang membuatnya berespons memberontak terhadap hukum yang diberikan. Ketidakmampuan manusia untuk melakukan hukum Taurat dengan cermat dan kecondongan hatinya untuk melanggar hukum yang diberikan menunjukkan bahwa tidak ada kemungkinan untuk mendapat pemulihan hubungan dari seteru Allah kepada sebuah perdamaian dengan Allah melalui hukum Taurat itu.  Hukum Taurat tidak menyelamatkan melainkan hanya membuat manusia sadar akan dosanya.

3.  Manusia Dibenarkan oleh Iman
     Beranjak dari fakta semua manusia berdosa dan hukum Taurat tidak dapat menyelamatkan, Paulus menggarisbawahi sebuah kebenaran dalam surat Roma, yaitu bahwa manusia dibenarkan oleh Kristus.  Hanya orang benar yang bisa berdiri kokoh dan berdamai di hadapan Allah.  Oleh karena semua manusia telah berdosa, maka keselamatan bagi manusia berdosa yang adalah seteru Allah hanya bisa dimungkinkan terjadi oleh sebuah pembenaran, yaitu pemberian kebenaran yang dilakukan oleh Allah sendiri kepada manusia.  Melalui  pembenaran,  maka Allah mengubah seluruh hubungan manusia dengan-Nya. Manusia tidak lagi menjadi seteru Allah.  Dalam hal ini pembenaran adalah terhadap relasi manusia dengan Allah, dan bukan pembenaran terhadap perbuatan-perbuatan dosa manusia. 
      Pembenaran ini merupakan anugerah karena tidak diperoleh dengan usaha manusia tapi oleh anugerah atau pemberian cuma-cuma dari Allah bagi mereka yang beriman.  Bagi orang Yahudi yang terbiasa dengan konsep keselamatan oleh karena melakukan hukum Taurat, hal ini mungkin agak sukar diterima.  Agar mereka dapat memahami hal ini maka Paulus terlebih dahulu membuka mata orang Yahudi bahwa Abraham, bapa bangsa-bangsa  itu pun mendapatkan kebenaran bukan karena melakukan hukum Taurat melainkan karena iman (4:13).  Apa yang diungkapkan Paulus tentang pembenaran Abraham tersebut sesuai dengan isi Kej 15:6 “Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, dan TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai suatu kebenaran.”  Abraham beriman kepada janji Allah, dan imannya itu yang diperhitungkan sebagai kebenaran dan bukan perbuatannya.  Hal ini berarti oleh iman Abraham dibenarkan Tuhan.  Anthony A. Hoekema melihat bahwa iman Abraham terhadap janji Allah mengenai keturunannya mencakup iman terhadap janji mengenai lahirnya Dia yang oleh-Nya semua bangsa di dunia akan diberkati. Pembenaran oleh iman ini berlaku juga bagi keturunan Abraham.
      Paulus menggunakan paralelisme Adam dan Kristus untuk menggambarkan bagaimana manusia dibenarkan oleh iman (5:12, 15).  Adam dan Kristus memiliki kemiripan dalam satu hal, dimana satu orang berdampak kepada banyak orang.  Everett F. Harrison menyebut hal ini sebagai kebenaran yang masuk ke dalam dunia oleh satu orang sebagaimana dosa yang masuk ke dalam dunia oleh satu orang. Sementara itu Hoekema menjelaskan bahwa apa yang ditulis Paulus dalam 5:12, 15 merupakan pengembangan pemikiran bahwa kebenaran Kristus diimputasikan kepada manusia di dalam pembenaran.  Kebenaran Kristus itu adalah bahwa Ia telah dengan sempurna menaati hukum Taurat yang tidak bisa ditaati manusia, dan bahwa Ia telah menanggung murka yang selayaknya ditimpakan kepada manusia atas dosa-dosa manusia itu sendiri.
      Kebenaran tersebut hanya bisa diterima dengan iman.  Kebenaran diberikan kepada mereka yang percaya pada janji penebusan Allah di dalam Kristus yang sudah dilakukannya di kayu salib. Sebagaimana Abraham percaya oleh janji Allah dan imannya itu diperhitungkan sebagai kebenaran, demikian juga bagi kita yang percaya pada janji Allah oleh Yesus Kristus, iman kita akan diperhitungkan sebagai kebenaran.  Kebenaran yang diterima tanpa usaha manusia ini merupakan anugerah atau kasih karunia.


BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
Semua manusia berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, tidak ada seorangpun yang dapat diselamatkan, baik itu orang Yahudi maupun orang non-Yahudi. Oleh sebab itu, Paulus menuliskan surat dan menyampaikan kepada orang-orang Roma, baik itu orang Yahudi dan orang non-Yahudi bahwa hanya anugerah Allah semata manusia itu diselamatkan bukan dengan berbuat baik dan juga melakukan Hukum Taurat. Hukum Taurat tidak bisa menyelamatkan manusia, tetapi Hukum Taurat hanya berfungsi untuk menuntun manusia kepada kebenaran Allah. Paulus juga menekankan bahwa sebagai orang Yahudi ( umat pilihan Allah) jangan memegahkan diri karena telah di pilih secara khusus oleh Allah, tetapi seharusnya menjadi teladan bagi orang non-Yahudi. Dan keselamatan yang dari Allah bukan hanya milik orang Yahudi saja, tetapi keselamatan itu adalah milik semua orang, yaitu bagi barangsiapa yang percaya dan mengakui bahwa Yesus Kristus adalah Juruselamat dunia.















DAFTAR PUSTAKA

The NIV Study Bible (ed. Kenneth Barker; Grand Rapids:  Zondervan, 1995) 1705-1706.
A Guide to Romans (London: SPCK, 1975) 22-33.
Everett F. Harison,  Romans (EBC; ed. Frank E. Gaeblein; Grand Rapids: Zondervan,
Frederic L. Godet, Commentary on Romans (Grand Rapids: Kregel, 1977) 128.
J. W. Wenham, Bahasa Yunani Koine (Malang: SAAT, 1977) 145.
Bastiaan Van Elderen, New Testament Greek Studi Aids (Amsterdam: Free University, t.t.)17.
F. F. Bruce, The Letter of Paul to the Romans (TNTC; Leicester: IVP; Grand Rapids: Eerdmans, 1985) 126.
Grace Abounding in Believers Life (ed. Robert Hall;  Lynwood: Emerald, 1994) 55.
Antony A. Hoekema, Diselamatkan oleh Anugerah (Surabaya: Momentum, 2001)217.  


Teologi Injil Matius

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Injil Matius bersama dengan Injil Markus dan Lukas, biasanya disebut sebagai Injil Sinoptik. Istilah Sinoptik ini pertama kali diberikan oleh J. J. Griesbach menjelang akhir abad 18, karena ketiganya mempunyai banyak persamaan, sehingga dapat disusun dalam tiga kolom seperti suatu synoptis, yaitu suatu pandangan di mana ketiganya dapat di baca bersama. Kata “sinoptik” berasal dari kata “sun opsis”, sun berarti bersama, opsis berasal dari kata harao, yang artinya melihat. Jadi, sun opsis berarti melihat bersama. Ini berarti bahwa Injil Matius, Markus , Lukas bisa dilihat dan dibaca bersama, karena isinya begitu mirip dengan yang, walaupun tiap kitab memiliki ciri masing-masing.
Menurut para sarjana theologia percaya bahwa Injil Matius ditulis oleh Matius, pemungut cukai, yang juga bernama Lewi (bukan dalam arti keturunan suku Lewi). Gereja mula-mula juga berpendapat bahwa Injil Matius di tulis oleh Matius, menurut pendapat bapak gereja yang bernama Papias.
Injil Matius adalah Injil yang paling terkenal dan paling banyak dikutip dari keempat Injil di dalah sejarah gereja. Dan juga paling banyak dibaca dan dipelajari oleh orang Kristen sejak mula-mula. Salah satu sebab utamanya adalah karena mengandung banyak ajaran Tuhan Yesus yang telah disusun rapi dan sistematis dalam liam kumpulan ajaran Tuhan Yesus.
1.      Khotbah di Bukit ( yang mengajarkan ajaran Etika) pasal 5-7. Bagian ini membahas tentang murid-murid dan orang banyak yang datang dari Galilea, Dekapolis, Yerusalem, Yudea dan dari seberang sungai Yordan, yaitu suatu kumpulan orang banyak meliputi seluruh daerah Palestina.
2.      Yesus mengutus 12 murid (berkenaan dengan misi) pasal 10.
3.      Perumpamaan tentang kerajaan Allah (Proklamasi/pemberitaan Injil) pasal 13.
4.      Kehidupan dan persekutuan Kristen, yaitu mengenai Ekklesiologi/kehidupan bergereja, pasal 18.
5.      Khotbah Yesus berkenaan dengan akhir zaman (Eskatologi) pasal 24-25.
Kita dapat melihat lima kumpulan pengajaran TuhanYesus ini, karena kita dapat melihat pada setiap bagian terakhir dari kumpulan ajaran Matius mengakhiri dengan kalimat penutup “setelah Yesus selesai dengan segala pengajaran-Nya itu . . .” (7:28. 11:1. 13:35. 19:1, 26:1). Injil Matius ini ditulis cukup teratur dan sistematis, sehingga Sherman Johnson dalam bukunya The Theology of the Gospel mengatakan: “Mattew is primarily a teacher . . . He loves to collett, arganize and systematize in material . . .” kita tidak heran kalau Injil Matius dikatakan sebagai Injil yang paling banyak dibaca dan dipelajari karena memang penulisannya cukup rapi, jelas dan mudah dibaca.

  1. Tujuan Penulisan Injil Matius adalah :
  1. Untuk meyakinkan orang-orang Yahudi bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah.
  2. Untuk menyediakan bahan pelajaran katekisasi bagi orang Kristen Yahudi yang baru percaya kepada Tuhan.
  3. Untuk memberikan pegangan kepada mereka tentang dasar-dasar doktrin dan iman Kristen yang baru mereka kenal melalui Yesus Kristus.
  4. Untuk mendorong mereka supaya hidup dalam persekutuan kristen dan beribadah bersama dalam kumpulan orang-orang kristen yang disebut gereja.
  5. Untuk memerintahkan mereka supaya pergi bersaksi kepada bangsa-bangsa bukan Yahudi dan  mengajar bahwa Yesuslah Mesias, Juruselamat dunia.



BAB II
PEMBAHASAN


A.    TEOLOGI INJIL MATIUS
a.      ALLAH ITU HIDUP
Dalam peristiwa bagaimana Allah memimpin bangsa Israel menyeberangi sungai Yordan, yosua berkata: “Dari hal inilah kamu ketahui, bahwa Allah yang hidup ada di tengah-tengah kamu . . . (Yos. 3:10)Dan di dalam Mazmur juga mengatakan: “Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikiankah jiwakumerindukan engkau, ya Allah. Jiwaku haus kepada Allah, yaitu Allah yang hidup . . . hatiku bersorak-sorai kepada Allah yang hidup” (Maz. 42:2-3. 84:3).
Ditinjau dari relevansi kehidupan sehari-hari sebagai orang Kristen doktrin tentang Allah yang yang hidup dalam Injil Matius cukup banyak dan cukup mengagumkan. Ketika murid-murid ditanya oleh Yesus: “Siapakah Aku ini?” Petrus menjawab-Nya “Engkau adalah Mesias, anak allah yang hidup”. Donald Hagher mengatakan: “It describes the true God, as opposed to the gods of the world who were not alive . . . that god is uniquely the source of all life.” Apabila kita mengatakan Allah itu hidup, berarti Allah itu aktif berkarya, Ia mneciptakan dan memelihara langit dan bumi dan Dialah yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang”. Apabila Allah adalah Allah yang hidup, maka Ia mempunyai kehendak. Ia menghendaki supaya kita berpaling dan menyembah Dia dalam roh dan kebenaran ( Yoh. 4:23-24). Ia juga menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran.
Allah yang hidup adalah Allah yang mengakhiri sejarah kehidupan manusia. Sebab Dialah Allah yang hidup sampai selama-lamanya. Dialah Allah yang akan mengaruniakan hidup yang kekal bagi setiap orang yan gpercaya kepada-Nya.

b.      ALLAH BEKERJA MENURUT RENCANA
·         Matius banyak berbicara tentang penggenapan dalam Perjanjian Lama. Dalam Injil ini terdapat 61 kutipan PL yang banyak di antaranya tergenapi dalam Injil Matius.
Matius sangat menonjolkan peranan Allahdalam proses inkarnasi dan karya keselamatan-Nya. Hal ini dapat kita lihat dengan jelas dari ayat-ayat di bawah ini:
  1. Maria dikatakan mengandung melalui Allah Roh Kudus (1:18).
  2. Malaikat Allah menyatakan kepada Ysusf melalui mimpi dan berbicara kepadanya (1:20).
  3. Melalui kelahiran Yesus yang bernama Immanuel, berarti Allah menyertai kita (1:23).
  4. Allah menyelamatkan Yesus dari tangan Herodes dan membawa-Nya ke Mesir (2:13).
  5. Allah membawa Yesus bersama Yusuf dan Maria kembali ke tanah Israel (2:19-20).
  6. Segera setelah Yesus dibaptis, Matius mencatat suara Allah Bapa dari sorga yang mengatakan: “Inilah Anak yang kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan” (3:1).
  7. Dalam kisah pencobaan, Matius mennulis bahwa Yesus dibawa oleh Roh Allah ke padang gurun (4:1).
·         Kisah Orang Majus dari Timur
Matius menulis kisah ini berbeda dengan apa yang ditulis dalam Injil Lukas. Matius menceritakan tentang datangnya orang Majus dari timur dan bagaiman Allah melindungi bayi Yesus dari usaha pembunuhan yang dilakukan oleh Herodes. Jadi, Matius ingin menekankan bahwa bagaiman Allah memelihara dan melindungi Yesus. Allah yang hidup bekerja dan menyatakan kuasa-Nya di atas kuasa Herodes.

c.       ALLAH SEBAGAI BAPA
Dalam Injil Matius menyebutkan Allah sebagai Bapa sebanyak 44 kali. Menarik untuk diperhatikan bahwa pemeliharaan Allah sebagai Bapa ditujukan kepada semua orang, termasuk anak-Nya, bahkan burung dan tanaman. (Mat. 5:43-45, 6:26-30, 15:30, 18;10, 14, 19-20). Konsep Allah sebagai Bapa oleh Matius juga banyak disajikan dalam hubungannya dengan beramal, pahala dan doa, misalnya dalam “Doa Bapa Kami” (Mat. 6:1-4, 9-13, 17-18, 7:11). Kita diajarkan pada waktu kita berdoa, kita menghampiri Allah sebagai Bapa, sebagaimana setiap kali Yesus berdoa, Ia memanggil Allah adalah Bapa, kecuali satu kali ketika Ia menanggung dosa segenap umat manusia di atas kayu salib, Ia berseru dalam doa: Ya Allahku . . . (27:46).

d.      ALLAH MAHAADIL
Matius mencatat banyak sekali kisah dan ajaran mengenai penghakiman dan hukuman yang memperkenalkan kepada pembaca bangsa Yahudi bahwa Allah Mahaadil dan Allah adalah Hakim yang Agung. Pada hari penghakiman, matius mengisahkan bahwa Anak Allah akan menjadi tokoh utama dalam proses penghakiman (25:31-46, 16:27). Namun, bila dan kapan hari penghakiman itu tiba, dikatakan bahwa Anak tidak tahu, hanya Bapa yang tahu (24:36). Istilah kegelapan dan ratap dan gertak gigi berulang kali terdapat di Matius (8:12, 13:42, 50, 22:13, 24:51, 25:30). Ayat-ayat ini sudah jelas menggambarkan keadilan dan murka Allah terhadap mereka yang menolak anugerah keselamatan Allah yang dikaruniakan kepada mereka dengan cuma-cuma, terutama kepada bangsa Yahudi.

B.     KRISTOLOGI INJIL MATIUS
Di dalam injil Matius mengandung banyak sekali ajaran Tuhan Yesus, yang pada umumnya bisa dibagi menjadi lima bagian besar:
1.      Khotbah di Bukit: Ajaran mengenai Etika Kristen (ps 5-7)
2.      Pengutusan ke-12 murid: Ajaran mengenai Misi kristen (ps 10)
3.      Perumpamaan tentang Kerajaan Allah: Ajaran mengenai kerajaan Allah (ps 13).
4.      Kehidupan komunitas Kristen: Ajaran mengenai gereja (ps 18).
5.      Kedatangan kristus yang kedua: Ajaran mengenai akhir zaman (ps 24-25).
Sedang ajaran mengenai persom Yesus, siapa sebenarnya Yesus itu? Dalam Injil Matius secara ringkas dapat kita lihat dari:
1.      Dalam ps 1:1 dikatakan: “Inilah silsilah Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham” (bdk. Mark. 11). Disini kita melihat bahwa Injil Matius diawali dengan silisilah Yesus kristus, bukan tokoh yang lain.
2.      Kelahiran Tuhan Yesus (ps 1-2). Injil Matius jauh lebih banyak dalam mengisahkan tentang kelahiran Yesus.
3.      Kisah tentang orang Majus (ps. 2:1-12). Kisah ini hanya dicatat dalam Injil Matius, yang menunjukkan keunikan person Kristus bahwa Ia disembah begitu Ia lahir.
4.      Pekerjaan (Mujizat) Tuhan Yesus. Matius mencatat ada 20 mujizat yang dilakukan Tuhan Yesus. Kira-kira 75% mujizat penyembuhan (ditambah lagi dengan 4:23-25, 8:16, 14:36, 15:30-31, 19:1-2). Dengan demikina, dapat kita katakan bahwa kebanyakan dari mujizat penyembuhan.
5.      Pernyataan diri Yesus. Dari cara Ia menghimbau dan berseru supaya orang bertobat, dari wibawa Yesus memanggil murid-murid supaya mengikuti Dia, dari cara Yesus mengajar yang penuh otoritas, misalnya dalam khotbah-Nya di Bukit.
6.      Kisah kematian dan kebangkitannya. Ini adalah bagian yang utama dalam penulisan Injil Matius yang sedikitnya dicatat oleh Matius dalam 161 ayat, yaitu dalam ps 26, 27, dan 28.
7.      Amanat Agung. Dari Amanat Agung ini kita dapat melihat bahwa Yesuslah Tuhan yang memiliki segala kuasa di sorga dan di bumi, Dialah yang memulai gerakan globalisasi  penginjilan dan Dialah yang menjamin bahwa Ia akan menyertai murid-murid-Nya sampai akhir zaman.

YESUS SEBAGAI MESIAS
Lima kali dalam pembukaannya Matius memperkenalkan Yesus sebagai Mesias (1:1, 16-18 dan 2:4). Ketika Yohanes Pembaptis dalam penjara ia mendengar tentang pekerjaan Yesus sebagai pekerjaan Mesias, yaitu orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik. Sebagaimana dinubuatkan dalam PL. Petrus mengenal Yesus sebagai “Mesias”, Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup” (16:16). Bangsa Yahudi mengharapkan kedatangan Mesias dalam arti nasional, sedang Yesus datang sebagai Mesias dalam arti spiritual. Bangsa Yahudi mengharapkan kedatangan Mesisa untuk bangsa Yahudi, Yesus datang sebagai Mesias untuk semua bangsa.
Yesus juga membenarkan pernyataan Kayafas bahwa Ia adalah Mesiass (26:63-64). Kayafas bertanya: “Demi Allah yang hidup, katakanlah kepada kami, apakah Engkau Mesias . . .?” Yesus menjawab engkau telah mengatakannya. Jadi, dariawal penulisan Injil Matius sampai pada akhirnya, kita melihat bagaimana Matius memperkenalkan pembacanya bahwa Yesus adalah Mesias.

MESIAS SEBAGAI ANAK DAUD
Bagaimana kita bisa mengerti bahwa Dia adalah Mesias tetapi Dia juga adalah Anak Daud?
Pertama, Kita melihat, si anak buta yang di daerah Kapernaum dalam kesadarannya berseru minta minta tolong kepada Yesus dengan mengatakan: “Kasihanilah kami, hai anak Daud” (9:22) dan juga perempuan Kanaan yang berseru: Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempaun kerasukan setan . . . “(15:22). Lebih jelas lagi ketika Yesus dielu-elukan di Yerusalem, di mana orang banyak bersorak-sorai dengan suatu pujian: “Hosana bagi anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan.”
Kedua, Menjelang akhir pelayanan-Nya Yesus bertanya kepada orang-orang Farisi, apakah pendapat mereka tentang Mesias. Mereka menjawab bahwa Mesias adalah Anak Daud (22:41-4b). Frasa Anak Daud sebenarnya mengandung arti bahwa Mesias seperti Daud karena Bangsa Yahudi sangat menyanjung Daud sebagai Rajayang ideal. Makanya Yesus juga disebut sebagai Great David’s greater son.
YESUS SEBAGAI ANAK MANUSIA
Dalam Injil Matius, istilah ini muncul pertama kali dalam pasal 8, yaitu ketika ada seorang ahli Taurat (sama juga dengan ps 9:3-6) yang menyatakan bahwa ia mau mengikut Yesus. Istilah Anak Manusia sering kali berkenaan dengan:
1.      Misi-Nya: Ini terdapat dalam ayat-ayat berikut ini:
a.       “ . . . anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya” (8:20).
b.      “ . . . Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa “ (9:6).
c.       “ . . . Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat” (12:8).
d.      “ . . . Anak Manusia datang untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya” (20:28).
Kedatangan Anak Manusia ke dalam dunia adalah untuk melayani, berkorban, bahkan juga memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi semua orang. Namun, juga Anak Manusia berkuasa untuk mengampuni, Ia juga Tuhan atas hari Sabat.
2.      Penderitaan-Nya: Sekalipun anak Manusia adalah Tuhan yang berkuasa, namun misi utama-Nya datang ke dalam dunia adalah untuk menderita dan mati di atas kayu salib ((17:12, 22-23, 20:18, 26:2, 26:45).
3.      Kemuliaan-Nya: Perlu kita ingat pula bahwa Anak Manusia yangmelayani, menderita bahkan mati di kayu salib, Ia juga mengklaim bahwa satu hari Ia akan datang kembali dalam kemuliaan-Nya. Dan ayat-ayat ini adalah ucapan Yesus sendiri yang menyebutkan diri-Nya sebagai “Anak Manusia.” (17:9, 19:28, 26:64. 16:27).
Anak Manusia akan bangkit dan naik ke sorga adan satu hari ia akan datang kembali dalam kemuliaan-Nya
YESUS SEBAGAI ANAK ALLAH
Matius mencatat Yesus sebagai Anak Allah dalam kisah dibaptis (3:17), transfigurasi (17:5), dan pada kematian-Nya (27:54).
Anak Allah dan Kuasa-Nya: Matius mencatat bahwa sebagai Anak, Ia mempunyai kuasa untuk berseru kepada Allah Bapa supaya Allah mengirimkan dua belas pasukan malaikat untuk membantu Dia (26:53). Dalam masa pelayanan-Nya, Yesus dikatakan mempunyai kuasa seperti Allah. Contohnya dalam ps 9:6, Matius menulis: Tetapi supaya kamu tahu bahwa di dunia ini Anak Allah berkuasa untuk mengampuni dosa (Yesus yang adalah Anak Allah, dalam hal ini menyebutkan diri-Nya sebagai Anak Manusia). Matius mencatat kalimat ini sehubungan dengan Yesus berkata kepada seorang lumpuh: “Percayalah, hai anak-Ku, dosamu sudah di ampuni” (9:2). Jadi, dalam kisah ini Yesus tidak saja menyembuhkan orang yang lumpuh itu, Ia juga mengampuni dosanya, karena Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa seseorang.
Yesus mati sebagai Anak Allah: Yesus sebagai Anak Allah, mati di kayu salib guna menanggung dosa kita. Maka ketia Ia terpaku di kayu salib, orang-orang yang  lewat di san menghujat Dia sambil berkata: “Selamatkan diri-Mu jikalau Engkau Anak Allah, turunlah dari salib itu” (27:40). Demikian juga imam-imam kepala bersama ahli Taurat dan tua-tua mengolok Dia sambil berkata : “Orang lain Ia selamtakan, tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat Ia selamatkan! . . . Baiklah Allah menyelamatkan Dia, jikalau Allah berkenan kepada-Nya. Karena Ia telah berkata: Aku adalah Anak Allah (27:43).
YESUS SEBAGAI TUHAN
Dalam Injil Matius kata Tuhan dipakai sebanyak 80 kali. Matiu pertama-tama menekankan bahwa yang dimaksud  “Tuhan” ialah “Allah,” oknim pertama dalam Tritunggal. Matius menyajikan kebenaran ini melalui ucapan Yesus sendiri. Misalnya dalam kisah Yesus dicobai, Yesus dua kali memakai istilah “Tuhan” yang dimaksud ialah Allah (4:7, 10). Dalam doa Yesus, Ia pun mengatakan: “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi (11:25).

C.    PNEUMATOLOGI INJIL MATIUS
Injil Matius menyebutkan Roh Kudus hanya 12 kali, diantaranya 4 kali terdapat pada pasal 12, yaitu mengenai menghujat Roh Kudus.
Dalam Injilnya ini, pertama-tama Matius memberitahukan kepada kita bahwa Roh Kudus adalah Roh yang memberi hidup kepada kelahiran Yesus, Anak Allah (1:18, 20). Ketika Yesus dibaptis Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya (3:16). Dari ayat ini kita melihat adanya unsur Allah Bapa, Anak dan roh Kudus, yaitu yang kita kenal sebagai Allah Tritunggal. Kemudian juga dikatakan bahwa Roh Kudus membawa Yesus ke gurun untuk dicobai Iblis (4:1).
Membaptis dengan Roh Kudus:
  1. Kata membaptis disini adalah arti kiasan, sebab dalam Injil Yohanes dikatakan bahwa Yesus tidak membaptis, melainkan murid-murid-Nya (4:1-2). Maka apabila Yesus dikatakan membaptis dengan Roh Kudus, itu adalah dalam arti kiasan atau spiritual, bukan dalam arti upacara atau seremonial.
  2. Kata membaptis bisa mengacu pada pelayanan Yesus yang pada dasarnya bersifat spiritual, yaitu melalui pemberitaan, pekerjaan atau mujizat yang dilakukan Yesus dan dengan pertolongan Roh Kudus seseorang bisa bertobat dan percaya dan lahir baru.
  3. Baptisan Roh Kudus itu pada akhirnya tergenap pada hari Pentakosta. Sebab sesudah kebangkitan Kristus, Ia sendiri mengatakan: “Sebab Yohanes membaptis dengan air, tetapi tidak lama lagi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus” (Kis. 1:5). Kalimat tidak lama lagi tentunya menunjukkan pada peristiwa yang akan datang, yaitu hari Pentakosta, yang terjadi dan tercatat pada Kisah Para Rasul 2.
Menghujat Roh Kudus: Dalam masa pelayanan Yesus, ketika Ia mengusir setan, Matius mencatat: “Tetapi jika Allah mengusir setan dengan kuasa Roh Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah dekat kepadamu” (12:28). Menghujat Roh Kudus bukanlah merupakan suatu ucapan semata, melainkan merupakan suatu  sikap seorang yang mengeraskan hatinya dan terus menerus menutup pintu hatinya.
Roh Kudus sebagai Penolong: Konsep ini cukup kita kenal dalam tulisan Yohanes di mana Yesus mengatakan: “Aku akanminta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu roh Kebenaran” (14:16-17a).

D.    EKKLESIOLOGI INJIL MATIUS
Dari kelima kelompok ajaran Tuhan Yesus yang terdapat dalam Injil Matius, satu diantaranya ialah tentang gereja, yaitu dalam pasal 18. Apalagi ditambah lagi dengan pasal 16:16-19 dan 28:19-20, maka kita mendapatkan ajaran tentang gereja yang cukup banyak dalam Injil Matius dibandingkan dengan injil-injil lainnya, oleh sebab itu Injil Matius disebut sebagai “Ecclesiastical Gospel.” Ada tiga perikop ayat-ayat yang berkenaan dengan gereja dalam Injil Matius:

PENGAKUAN PETRUS DAN GEREJA
            Ketika Yesus tiba di daerah kaisarea Filipi bersama dengan murid-murin-Nya Yesus bertanya kepada mereka: “ Siapakah Aku ini?” Maka jawab Simon Petrus: “ Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Kata Yesus kepadanya lihat di pasal 16:16-19.
Pertama: Yesus melihat bahwa dari murid-murid Tuhan yang hanya 12 orang itu akan terus berkembang menjadi duatu kumpulan besar orang percaya yang di sebut “gereja.” Disitulah Yesus mengatakan: “ Aku akan mendirikan jemaat-Ku” (ayat 18).
Kedua: Dari ayat 17 kita tahu bahwa pengenalan pada Yesus sebagai Mesias adalah melalui wahyu Allah (bdk. Mat 11:25)
Ketiga: Ada pandangan yang melihat bahwa Petrus sebagai batu karang dan di atas batu karang Petrus itulah Kristus mendirikan gereja-Nya
Keempat: Gereja yang Tuhan dirikan itu akan menjado gereja yang permanen den kekal, dan alam maut tidak akan menguasainya. Sesudah Yesus mengatakan bahwa alam maut tidak akan menguasai-Nya Yesus segera berbicara tentang bagaimana Ia akan mati di atas kayu salib (ayat 21) dan kita tahu di belakang kayu salib itu ada kebangkitan. Dan sesudah kebangkitan itulah murud-murid mulai pergi memberitakan berita kebangkitan Kristus dan karena pemberitaan itulah banyak orang percaya dan disitulah gereja-gereja didirikan. Maka, gereja didirikan karena Yesus telah mengalahkan alam mautu di atas kayu salib. Demikianlah kita mengerti bahwa gereja yang didirikan Tuhan itu adalah gereja yang kekal, dan alam maut tidak akan bisa menguasai atau mengalahkan.

Kelima: “Kunci Kerajaan Allah” adalah kunci yang menghantar orang masuk ke dalam kerajaan Allah, yaitu melalui pengajaran dan penginjilan dan berita pengampunan.

Waktu Tuhan Bukan Waktu Kita

 Dalam Buku SMART CHRISTIAN LEADERSHIP , Penulis: F. Boestan , Hal. 10 Menuliskan bahwa Seringkali Tuhan memakai kesengsaraan, penderitaan, ...