ALKITAB ADALAH BUKU KEHIDUPAN



✍🏻Surat khabar Washington Times, 30 Juli 1996 menuliskan riset yg dilakukan oleh Prof. Dr. Jeffrey Leven & Dr. David Larsen, bahwa apabila orang membaca Alkitab secara teratur, bukan saja baik bagi jiwanya, tetapi juga baik bagi tubuhnya. Mereka melakukan penelitian terhadap lebih dari 500 orang selama berbulan-bulan. Ditemukan bahwa dari mereka yg membaca Alkitab secara teratur:

1. Memunyai tekanan darah lebih rendah,
2. Tingkat depresinya lebih rendah,
3. Lebih sedikit penderita penyakit jantung,
4. Jarang yg kecanduan obat maupun alkohol,
5. Jarang terjadi perpecahan dalam perkawinan, &
6. Tingkat kesehatannya jauh lebih baik.

✍🏻Benarkah Alkitab memiliki makna luar biasa bagi kehidupan Apakah Alkitab memiliki manfaat bagi pembacanya? Tulisan di dalam di dalam 2 Timotius 4:16 “Segala tulisan yg diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar,untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan & untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.” Jelas sekali, Alkitab memiliki pengaruh luar biasa bagi kehidupan kita.


HATI YANG GEMBIRA ADALAH OBAT YANG MANJUR


Amsal 17:22
Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang

Tertawa adalah obat terbaik."  Pernyataan itu sering kita dengar.  Ternyata, hal itu benar. Mungkin saat kamu dan teman-teman berkumpul dan bercanda gurau, kamu seringkali berbagi tawa. Mau tahu kenapa tertawa seringkali disebut obat yang terbaik?

Tertawa memberikan manfaat bagi kesehatan tubuh kita, dan tertawa dapat mendekatkan orang-orang dengan memicu reaksi fisik dan emosi dari tubuh.

Selain itu, tertawa bisa dilakukan di mana saja, kapan saja, dan semua ini gratis tanpa harus membayar atau membeli sesuatu dari apotek. Selain membakar kalori, katanya, tertawa juga dapat memperpanjang umur

TRAGEDI STRATEGI

Suatu perenungan pribadi dr Amsal 4:23, yaitu ttg Your Motivasion manusia...

"TRAGEDI STRATEGI"

       Strategi diperlukan untuk mencapai tujuan. Strategi yg tepat lebih efektif sampai ke tujuan. Tapi faktanya, tak setiap maksud yg baik ditempuh dng cara yg baik & benar. Akibatnya menimbulkan persoalan berkepanjangan. Banyak contoh dlm sejarah.
       Untuk mengatasi kelaparan, Abraham meminta bantuan Mesir. Untuk menghindari risiko ditolak mendapatkan bantuan, Abraham menyuruh Sara, isterinya,  untuk mengakui dirinya sbg 'adik' Abraham. Tapi strategi licik ini justru menimbulkan malapetaka besar bagi Mesir dan mereka pun diusir.
       Tidak sabar menunggu penggenapan janji Tuhan memberi anak kpd mereka di usia tua, Sara mengusulkan Abraham mengambil Hagar. Strategi ini obyektif, tapi menimbulkan persoalan berkepanjangan.
       Untuk mendapatkan berkat hak kesulungan atas anak kesayangannya, Ribka tdk segan2 memasang strategi 'akal bulus' agar Yakub menjebak Esau, abangnya, dan mengelabui Ishak, ayahnya. Tapi Yakub harus membayar mahal dng 'kerja keras' bertahun-tahun pada Laban.
        Saudara2 Yusuf membohongi Yakub, ayah mereka, dng mengatakan bhw Yusuf diterkam binatang buas. Mereka membawa barang bukti berupa pakaian Yusuf yg berlumuran 'darah'. Padahal mereka menjual Yusuf kpd para saudagar. Amanlah mereka untyk sementara waktu. Tapi di kemudian hari, mereka justeru dipermalukan ketika harus sujud menyembah di bawah kaki Yusuf di Mesir.
       Untuk mendapatkan Batsyeba, Daud mengatur strategi jahat atas Uria, suami Batsyeba, dng menempatkannya di medan perang terdepan yg bertujuan agar Uria mati. Seolah ini strategi 'cantik' dan Daud tdk akan dipersalahkan. Tapi ternyata Tuhan tdk membiarkannya. Tuhan mengusut tuntas kesalahan Daud.
       Untuk menyerahkan Yesus, Yudas mencium Yesus sdg tanda bagi para penangkap-Nya. Ia berhasil. Yesus pun ditangkap. Tapi strategi keji ini dibalas sampai mati.
       Maksudnya ikut memberi persembahan. Tapi hatinya setengah rela. Ananias & Safira mengatur strategi rapi. Tapi Roh Tuhan tak bisa dibohongi. Mereka pun mati di tempat.
       Strategi mesti "cerdik & tulus". Cerdik caranya & tulus motivasinya. Benarlah perkataan hikmat,"Jagalah hatimu dng segala kewaspadaan, krn dr situlah terpancar kehidupan." Dari dalam hatilah keluar segala pikiran yg jahat. Ada jalan yg disangka lurus namun berujung kebinasaan. Tuhan mengenal jalan orang benar, tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan. Tak ada niat jahat tanpa akibat.

"Apa yg engkau kehendaki orang perbuat bagimu perbuatlah itu..."

Cinta Kekuasaan atau Tuhan

Nats: Markus 14:1-2
Tema: Cinta Kekuasaan atau Tuhan?

Pendahuluan:  Shalom bpk/ibu dan saudara/i yang dikasihi oleh Tuhan, menjelang Hari Raya Paskah dan hari Raya Roti tidak  para imam kepala dan ahli-ahli Taurat justru mengadakan pertemuan untuk merencanakan penangkapan dan pembunuhan Yesus dengan tipu muslihat (Mrk. 14:1). Sebagai imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, sesungguhnya mereka tahu betul apa yang seharusnya dipersiapkan menjelang kedua hari raya tersebut (Bil. 28:16-25; Ul. 16:1-8). Seharusnya waktu itu mereka mempersiapkan diri untuk upacara korban dan mengadakan perkumpulan kudus. Akan tetapi, mereka justru sibuk memikirkan strategi dan waktu yang tepat untuk menangkap dan membunuh Yesus (Mrk. 14:2). Mereka yang selalu berpikir dan menganggap diri sebagai penjaga hukum Allah justru bertindak sebagai pelanggar hukum-hukum Allah. Mereka tidak ingat lagi akan tugas utama sebagai imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat.

Apa yang menyebabkan para imam kepala dan ahli taurat bertindak demikian?

1. Iri hati terhadap Yesus

 hal ini membuat mereka melupakan hukum Taurat yang sangat mereka pegang itu. Yesus dilihat sebagai musuh yang mengancam kedudukan, kuasa dan popularitas mereka. Demi mempertahankan kedudukan, kuasa, dan popularitas, siapapun bisa dibinasakan, sekalipun harus menggunakan cara-cara yang licik dan penuh tipu muslihat. Mereka sama sekali tidak takut akan Allah, sebaliknya yang menjadi fokus mereka adalah pandangan orang banyak supaya posisi, kekuasaan, dan wibawa mereka tetap terpelihara.

2. Kecintaan kekuasaan dan popularitas

Kecintaan kekuasaan dan popularitas bisa membuat seseorang kehilangan hati nurani bahkan melupakan Tuhan. Apa pun bisa dilakukan untuk mendukung tindakannya termasuk memakai aturan-aturan agama sebagai alat untuk pembenaran. Sebagai seorang pengikut Kristus, kita harus bisa memilih: mana yang paling kita cintai, "Tuhan" atau "kekuasaan dan popularitas"? Kekuasaan dan popularitas bukanlah segala-galanya, tetapi jika kita memiliki itu semua, pergunakan itu sebagai alat untuk melayani Tuhan dan sesama serta bukan untuk memuaskan keinginan diri sendiri.

Penutup/Kesimpulan:
Sebagai orang percaya janganlah kita seperti ahli-ahli taurat dan orang-orang farisi yang iri terhadap Yesus dan juga cinta akan kekuasaan dan popularitas, tetapi marilah kita mempersiapkan diri untuk menyambut hari paskah karena melalui paskah ini Yesus mati di kayu salib untuk menebus dosa umat manusia dan bangkit pada hari yang ketiga untuk memberikan hidup yang kekal bagi setiap orang yang percaya pada-NYA. Amin


PERNIKAHAN

PERNIKAHAN

Mengapa orang menikah ?
Karena mereka jatuh cinta.
Mengapa rumah tangganya kemudian bahagia ?
Apakah karena jatuh cinta ?
Bukan...
Tapi karena mereka terus bangun cinta. Jatuh cinta itu gampang, 10 menit juga bisa.
Tapi bangun cinta itu susah sekali, perlu waktu seumur hidup...
Mengapa jatuh cinta gampang ?
Karena saat itu kita buta, bisu dan tuli terhadap keburukan pasangan kita.
Tapi saat memasuki pernikahan, tak ada yang bisa ditutupi lagi.
Dengan interaksi 24 jam per hari 7 hari dalam seminggu, semua belang tersingkap...
Di sini letak perbedaan jatuh cinta dan bangun cinta. Jatuh cinta dalam keadaan menyukai.
Namun bangun cinta diperlukan dalam keadaan jengkel.
Dalam keadaan jengkel, cinta bukan lagi berwujud pelukan, melainkan berbentuk itikad baik memahami konflik dan ber-sama2 mencari solusi yang dapat diterima semua pihak. Cinta yang dewasa tak menyimpan uneg2, walau ada beberapa hal peka untuk bisa diungkapkan seperti masalah keuangan, orang tua dan keluarga atau masalah yang sangat pribadi.. Namun sepeka apapun masalah itu perlu dibicarakan agar kejengkelan tak berlarut.
Syarat untuk keberhasilan pembicaraan adalah kita bisa saling memperhitungkan perasaan. Jika suami istri saling memperhatikan perasaan sendiri, mereka akan saling melukai. Jika dibiarkan berlarut, mereka bisa saling memusuhi dan rumah tangga sudah berubah bukan surga lagi tapi neraka.
Apakah kondisi ini bisa diperbaiki ?
Tentu saja bisa, saat masing2 mengingat KOMITMEN awal mereka dulu apakah dulu ingin mencari teman hidup atau musuh hidup. Kalau memang mencari teman hidup kenapa sekarang malah bermusuhan ??
Mencari teman hidup memang dimulai dengan jatuh cinta. Tetapi sesudahnya, porsi terbesar adalah membangun cinta. Berarti mendewasakan cinta sehingga kedua pihak bisa saling mengoreksi, berunding, menghargai, tenggang rasa, menopang, setia, mendengarkan, memahami, mengalah dan bertanggung jawab.
Mau punya teman hidup ?
Jatuh cintalah....
Tetapi sesudah itu.. bangunlah cinta...Jagalah KOMITMEN awal.

1. KETIKA AKAN MENIKAH
Janganlah mencari isteri, tapi carilah ibu bagi anak-anak kita.
Janganlah mencari suami, tapi carilah ayah bagi anak-anak kita.

2. KETIKA MELAMAR
Anda bukan sedang meminta kepada orang tua si gadis, tapi meminta kepada TUHAN melalui wali si gadis.

3. KETIKA MENIKAH
Anda berdua bukan menikah di hadapan negara, tetapi menikah di hadapan TUHAN.

4. KETIKA MENEMPUH HIDUP BERKELUARGA
Sadarilah bahwa jalan yang akan dilalui tidak melalui jalan bertabur bunga, tetapi juga semak belukar yang penuh onak & duri.

5. KETIKA BIDUK RUMAH TANGGA OLENG
Jangan saling berlepas tangan, tapi sebaliknya justru semakin erat berpegang tangan.

6. KETIKA TELAH MEMILIKI ANAK
Jangan bagi cinta anda kepada suami/isteri dan anak Anda, tetapi cintailah isteri atau suami Anda 100% & cintai anak2x Anda masing2x 100%.

7.KETIKA ANDA ADALAH SUAMI
Boleh bermanja2x kepada isteri tetapi jangan lupa untuk bangkit secara bertanggung jawab apabila isteri membutuhkan pertolongan Anda.

8.KETIKA ANDA ADALAH ISTERI
Tetaplah berjalan dengan gemulai & lemah lembut, tetapi selalu berhasil menyelesaikan semua pekerjaan.

9.KETIKA MENDIDIK ANAK
Jangan pernah berpikir bahwa orang tua yang baik adalah orang tua yang tidak pernah marah kepada anak, karena orang tua yang baik adalah orang tua yang jujur kepada anak.

10.KETIKA ANAK BERMASALAH
Yakinilah bahwa tidak ada seorang anakpun yang tidak mau bekerjasama dengan orang tua, yang ada adalah anak yang merasa tidak didengar oleh orang tuanya.

11.KETIKA ADA 'PIL/ Pria Idaman lain.
Jangan diminum, cukuplah suami sebagai obat.

12.KETIKA ADA 'WIL/ Wanita Idaman lain.
Jangan dituruti, cukuplah isteri sebagai pelabuhan hati.

13.KETIKA MEMILIH POTRET KELUARGA
Pilihlah potret keluarga sekolah yang berada dalam proses pertumbuhan menuju potret keluarga bahagia.

14.KETIKA INGIN LANGGENG & HARMONIS
GUNAKANLAH FORMULA 7K

1.Ketakutan akan Tuhan

2.Kasih sayang

3.Kesetiaan

4.Komunikasi dialogis

5.Keterbukaan

6.Kejujuran

7.Kesabaran

Meski kita telah menikah dengan orang yang benar (tepat), tetapi kalau kita memperlakukan orang itu secara keliru, maka kita akhirnya akan mendapatkan orang yang keliru.
Kebahagiaan dalam sebuah pernikahan tidak tumbuh dengan sendirinya, melainkan harus diupayakan.
Pernikahan bukanlah tanaman bunga mekar harum semerbak yang sudah jadi. Pernikahan adalah lahan kosong yang harus kita garap bersama-sama.
Tidak cukup hanya dengan memilih dan menikah dengan orang yang tepat, tetapi jadilah pasangan yang TEPAT, yang memperlakukan pasangan kita dengan TEPAT pula.
Kita juga harus yakin kalau kita tidak salah memilih pasangan hidup. Kalau TUHAN sudah mengizinkan pernikahan itu terjadi, maka itu berarti IA mempercayakan tanggung jawab rumah tangga itu kepada kita dan pasangan kita.
Berbuatlah sesuai dengan apa yang telah engkau janjikan di hadapan TUHAN dan Imam, untuk tetap setia dan saling mengasihi dalam segala keadaan.

MENIKAH DENGAN ORANG YANG BENAR (ATAU SALAH), ITU TERGANTUNG DARI "CARA" KITA MEMPERLAKUKAN PASANGAN.

Manusia cenderung lebih pintar menilai orang lain daripada memeriksa diri sendiri,
Padahal, ketika satu jari menunjuk kepada orang lain, empat jari yang lain mengarah ke diri sendiri.
Jangan suka menghakimi tetapi baiklah kita saling mengasihi.

Pernikahan adalah tiket 1x jalan, jadi pastikan bersama pasangan kita menuju tempat yang lebih baik dari saat ini.
Pernikahan adalah tempat dimana kita dituntut menjadi dewasa & salah satu tanda dewasa adalah SIAP memikul tanggung jawab.
Pernikahan bukan masalah feeling suka tidak suka, tapi tentang komitmen.
Masalah dalam pernikahan biasanya karena kita tidak memahami perbedaan pria & wanita.
Jangan tuntut pasangan untuk berubah, kitalah yang harus berubah lebih dulu.
Ingat !!
Better me = Better we.

☻ 3 kesalahan umum ☻
yang sering dilakukan suami :
A. Tidak perhatikan perasaan istri.
Laki lebih pakai logika , wanita pakai feeling.
B. Lebih fokus memikirkan solusi daripada mendengar.
Wanita biasanya ingin didengarkan, dia ingin suami merasakan apa yang dia rasakan.
C. Seringkali setelah bicara, suami pergi tanpa beri kepastian / jawaban.

☻ 3 kesalahan umum ☻
yang sering dilakukan istri :
A. Memberi petunjuk tanpa diminta.
Mungkin bagi istri menunjukan perhatian , tapi bagi suami merasa dikontrol.
B. Mengeluhkan suami d¡ hadapan orang lain.
C. Mencoba membenarkan pada saat suami melakukan kesalahan. (istri merasa lebih benar)

Selama berumah tangga,
milikiLah komitmen2x ini :
1. Komitmen untuk tetap berpacaran.
2. Komitmen memiliki sexual intimacy regularly.
3. Komitmen untuk saling membantu (jangan mengkritik pasangan).
4. Komitmen untuk punya romantic get away (liburan berdua)
5. Komitmen berkomunikasi dengan jelas (saling cerita, terbuka, jangan biasakan bilang tidak dapat apa-apa bila ada apa-apa, pasangan kita bukan dukun)
6. Komitmen untuk bicara hal yang baik tentang pasangan (puji pasangan)
7. Komitmen untuk jadi pribadi yang lebih sehat dari sebelumnya. (Fisik yang sehat adalah kado buat pasangan)
8. Komitmen untuk mudah mengampuni pasangan.
9. Komitmen untuk bergandengan dan berpelukan.
10. Komitmen untuk h¡dυp dalam kebenaran.

10 Hukum Pernikahan Bahagia:

1. Jangan marah pada waktu yang bersamaan. (Efesus 5:1)

2. Jangan berteriak pada waktu yang bersamaan. (Matius 5:3)

3. Jikalau bertengkar cobalah mengalah untuk menang. (Amsal 16:32)

4. Tegurlah pasangan Anda dengan kasih. (Yohanes 13:34-35)

5. Lupakanlah kesalahan masa lalu. (Yesaya 1:18 ; Amsal 16:6)

6. Boleh lupakan yang lain tapi jangan lupakan Tuhan dan pasangan Anda. (Kidung Agung 3:1-2)

7. Jangan menyimpan amarah sampai matahari terbenam. (Efesus 4:26-27)

8. Seringlah memberi pujian pada pasangan Anda. ( Kidung Agung 4:1-5 ; 5:9-16)

9. Bersedia mengakui kesalahan. ( I Yohanes 1:9)

10. Dalam pertengkaran yang paling banyak bicara,dialah yang salah. ( Matius 5:9)

Pernikahan yang bahagia membutuhkan jatuh cinta berulang-ulang dengan pasangan yang sama.

Kidung Agung 8:7 "Air yang banyak tak dapat memadamkan cinta. Sungai-sungai tak dapat menghanyutkannya. Sekalipun orang memberi segala harta benda rumahnya untuk cinta, namun ia pasti akan dihina."

Konfliks dan perselisihan menggerus cinta perlahan-lahan seperti abrasi mengikis pantai.

Waktu atas sebuah pernikahan membuat cinta menjadi pudar, padahal asal muasal cinta begitu kuat tak terpadamkan, cinta sejati tidak bisa dibayar dengan harta benda.

Bangun pagi ini katakan kepada pasangan kita " I LOVE YOU " biarlah ini menjadi pupuk yang akan menyuburkan kembali cinta kepada pasangan kita.

Tujuan pernikahan bukanlah berpikiran sama, tetapi berpikir bersama.

Matius 19:6 Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.

Kenapa kita disatukan dengan pasangan kita, agar kita saling melengkapi.

Pasangan yang tepat adalah yang dapat melengkapi kekurangan kita, bukan yang sama seperti kita.

Ketahuilah! Sampai kapanpun kita tidak akan pernah bisa menemukan pasangan yang memiliki pikiran yang sama.

Ketika kita bangun pagi ini pandang pasangan kita lalu katakan "saya membutuhkan kamu tanpa kamu hidup jadi tidak sempurna"

Lalu mulailah merangkai perbedaan perbedaan dengan pasangan kita agar menjadi satu sehingga menjadi suatu kekuatan yang luar biasa.

Percayalah ! Mulai saat ini keluarga kita menjadi keluarga yang diberkati TUHAN.

Tuhan Yesus memberkati 😊😇

Hari Esok Bukan Milik Kita

Hari Esok Bukan Milik Kita

Ayat Bacaan: Yakobus pasal 4:13-7
Jadi sekarang,  hai kamu yang berkata: “Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung”, sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Sebenarnya kamu harus berkata: “Jika Tuhan menghendakinya ,kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.”Tetapi sekarang kamu memegahkan diri dalam congkakmu, dan semua kemegahan yang demikian adalah salah. Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.
Kerangka Khotbah:
Keputusan dan rencana yang diambil dan diatur sendiri tanpa melibatkan Tuhan adalah suatu kebodohan besar. Dalam ayat-ayat ini kita jumpai suatu kebodohan yang dibuat manusia menghadapi hari esok tanpa Tuhan. Masalah ini digambarkan Rasul Yakobus dalam tiga hal:

1. Hari esok bukan milik kita (ayat 1)
  • Hari esok ada pergumulannya sendiri (Matius pasal 6 ayat 34)
  • Hari esok adalah milik Tuhan (Lukas pasal 12 ayat 20)
  • Hari esok ada dalam perlindungan Tuhan (Mazmur pasal 118 ayat 8 sampai 9)
2. Hari esok harus direncanakan dengan Tuhan (ayat 13)
  • Orang harus merencanakan sesuatu untuk dirinya (Lukas pasal 14 ayat 29)
  • Segala sesuatu tanpa Tuhan adalah sia-sia (Amsal pasal 3 ayat 5; Mazmur pasal 127 ayat 1; Yohanes pasal 15 ayat 5)
3. Memastikan sesuatu di hari esok dengan sombong adalah dosa
  • Kita berencana, Allah yang menentukan (Amsal pasal 27 ayat 1)
  • Kehendak Allah yang terbaik bagi kita untuk hari ini dan hari esok (Kisah Para Rasul pasal 18 ayat 21; 1 Korintus pasal 4 ayat 19)

SEBUAH FILOSOFIS KEHIDUPAN TENTANG SUKU ROTE DI PULAU TIMOR

MENGENAL BUDAYA ROTE


Kabupaten Rote Ndao adalah salah satu pulau paling selatan dalam jajaran kepulauan Nusantara Indonesia. Pulau-pulau kecil yang mengelilingi pulau Rote antara lain Pulau Ndao,Ndana, Naso, Usu, Manuk, Doo, Helina, Landu.
            Konon menurut lagenda seorang Portugis diabad ke 15 mendaratkan perahunya , dan bertanya kepada seorang nelayan setempat apa nama pulau ini, sang nelayan menyebut namanya sendiri, Rote. Sang pelaut Portugis mengira nama pulau itu yang dimaksudkan.
Sebagian besar penduduk yang mendiami pulau/kabupaten Rote Ndao menurut tradisi tertua adalah suku-suku kecil Rote Nes, Bara Nes, Keo Nes, Pilo Nes, dan Fole Nes. Suku-suku tersebut mendiami wilayah kestuan adat yang disebut Nusak.
Semua Nusak yang ada dipulau Rote Ndao tersebut kemudian disatukan dalam wilayah kecamatan.
            Masyarakat Rote Ndao mengenal suatu lagenda yang menuturkan bahwa awal mula orang Rote datang dari Utara, dari atas, lain do ata, yang konon kini Ceylon. Kedatangan mereka menggunakan perahu lete-lete.
            Strata sosial terdapat pada setiap leo. Lapisan paling atas yaitu mane leo (leo mane). Yang menjadi pemimpin suatu klein didampingi leo fetor (wakil raja) yang merupakan jabatan kehormatan untuk keluarga istri mane leo. Fungsi mane leo untuk urusan yang sifatnya spiritual, sedangkan fetor untuk urusan duniawi.
            Filosofi kehidupan orang Rote yakni mao tua do lefe bafi yang artinya kehidupan dapat bersumber cukup dari mengiris tuak dan memelihara babi. Dan memang secara tradisonal orang-orang Rote memulai perkampungan melalui pengelompokan keluarga dari pekerjaan mengiris tuak. Dengan demikian pada mulanya ketika ada sekelompok tanaman lontar yang berada pada suatu kawasan tertentu, maka tempat itu jugalah menjadi pusat pemukiman pertama orang-orang Rote.
            Secara tradisional pekerjaan menyadap nira lontar tugas kaum dewasa samapi tua. Tetapi perkerjaan itu hanya sampai diatas pohon, setelah nira sampai ke bawah seluruh pekerjaan dibebankan kepada wanita. Kaum pria bangun pagi hari kira-kira jam 03.30, suatu suasana yang dalam bahasa Rote diungkap sebagai; Fua Fanu Tapa Deik Malelo afe take tuk (bangun hampir siang dan berdiri tegak,sadar dan cepat duduk).

PAKAIAN ADAT
Menelusuri perkembangan Teknologi Tenun lkat di Pulau Rote, diperkirakan sejak masa sejarah orang Rote sudah mengenal Tekhnologi menenun. sebelum mengenal kapas, mereka   membuat Kain Tenun dari bahan serat gewang. Tenunan yang dihasilkan berupa sarung yang disebut lambi tei dan selimutyang disebut Lafe tei, dipakai sebagai pakaian harian maupun pakaian pesta. Tahun 1994 Tim Survei dan pengadaan Koleksi Museum mengunjungi Pulau Rote,
Pada saat itu masih dijumpai seorang Nenek di Kampung Boni- Kec. Rote Barat Daya yang masih menggunakan kain dari bahan serat gewang. Begitu dalamnya kecintaan sang nenek  terhadap kain tenun dari serat gewang,
Hingga   akhirnya nenek tersebut pun enggan bahkan tidak mau menggunakan kain tenun dari benang kapas.
Masuknya Bangsa-bangsa luar ke Pulau rote, membawa perubahan pada berbagai aspek budaya termasuk teknologi Tenun. Penggunaan serat-serat tumbuhan mulai terganti dengan serat kapas yang diperkenalkan oleh para lmigran, seperti : serat kapas, dll. serat kapas merupakan serat terpopuler di dunia' kain yang terbuat dari serat ini disebut kain katun. serat kapas berasal dari tanaman Gossypium, sejenis belukar dengan tinggi antara 120-180 cm' Pada awalnya tanaman ini ditemukan di lndia sekitar tahun 5000 SM kemudian menyebar ke Barat dan Timur hingga ke wilayah Nusantara' sampai abad 19 wilayah Nusantara berswasembada lahan katun. Dengan diterapkannya politik Tanam paksa oleh Kolonial Belanda, maka pembudidayaan kapas mulai merosot dan sejak itu benang katun Amerika dan lndia menguasai pasar Nusantara'

RUMAH ADAT ROTE
Mengunjungi suatu tempat kurang lengkap rasanya jika tidak memotret bangunan menarik yang merupakan icon daerah tersebut. Bangunan bisa berupa rumah adat, bangunan bersejarah hingga tempat ibadah. Dari sebuah bangunan bisa digali cerita menarik mengenai kehidupan penghuninya maupun sejarah bangunan tersebut.


MAKANAN KHAS
Kabupaten Rote Ndao adalah kabupaten hasil pemekaran dari kabupaen Kupang dengan jumlah kecamatannya sebanyak 8. Wilayah kabupaten ini terdiri dari pulau Rote serta dikitari pulau-pulau kecil sebanyak 103 buah pulau,6 buah pulau berpenghuni yakni: Rote,Ndao,Nuse,Landu,Nusa Manuk,dan Usu. Menurut legenda, pulau ini mendapat nama secara kebetulan dari seorang pelaut Portugis, yang ketika tiba dan menanyakan nama pulau itu,penduduk yang ngga ngerti hanya berucap “Rote”. Nah, pada masa kedudukan Belanda lebih sering disebut “Roti”
Jika anda pencinta pantai, aku bisa bilang bahwa Rote-lah surga pantai yang sesungguhnya bagi anda. Pulau ini dikelilingi oleh pantai berpasir putih bersih yang lebar-lebar. Pokoknya luar biasa. Bahkan saya yang sudah lama di Bali, belum menemukan pantai yang lebih bagus dari pantai di Rote. Bali hanya unggul di pengelolaan saja. Kalau dari alam,sebenarnya ngga seberapa. Tapi saya suka di Bali karena transport dan akomodasinya lebih lancar,lebih mudah, lebih murah.

Agama asli orang Rote disebut dengan Halaik. Dalam konsep kehidupan akan alam gaib, orang-orang Rote juga percaya akan adanya dewa. Misalnya dewa Dewa Nutu Bek (dewa untuk pertanian), dan dewa Nade Dio (dewa pemberi kemakmuran). Mengenai konsep wujud tertinggi tersebut dikenal dengan apa yang disebut dengan Mane Tua Lain atau Lama Tuak sebagai suatu wujud tertinggi.

BAHASA
Bahasa suku bangsa Rote pada hakekatnya satu (disebut bahasa Rote), namun bervariasi dialek menurut nusak masing-masing yang saling dapat dimengerti. Ciri yang menonjol dari bahasa Rote adalah bahasa sastra atau bahasa ritual. Bahasa sastra adalah satu bahasa khusus dan dapat segera dikenal sebagai bentuk bahasa yang digunakan dalam setiap kesempatan seperti : upacara adat, perundingan, salaman, nyanyian, tarian, dsb. Pada hakekatnya bahasa sastra merupakan pantun yang terdiri atas pasangan kata-kata berirama yang artinya bersamaan, misalnya: tolanok dudinok, dak esa fafan ma titiesa nonosinI (saudara sekerabat dan seturunan). Untuk memperoleh kata-kata seirama dengan makna dan tujuan yang sama, biasanya diambil kata-kata majemuk, sehingga bahasa sastra itu merupakan satu kesatuan pengertian yang mendalam.
Belanda memperkenalkan bahasa Melayu kepada orang Rote sebagai sarana bahasa pendidikan. Bahasa Melayu ini mudah diterima dan dipergunakan secara luar karena hampir sama dengan bahasa sastra orang Rote. Pada perkembangan lebih lanjut, bahasa Melayu berkembang menjadi bahasa Indonesia yang sampai sekarang menjadi bahasa lintas suku dan pemersatu bangsa, termasuk orang Rote.

SISTEM KEKERABATAN
Di Pulau Rote, Ume Ofa' atau "Perahu-Rumah" telah punah. Penyebabnya ialah politik Orde Baru di akhir 1960-an. Kala itu, masyarakat  diimbau menghilangkan tradisi membangun rumah tradisional dengan upacara-upacara adat dan pesta meriah, yang dinilai boros.  Tolok ukur siapa yang dipakai? Sebagai pelajaran bagi generasi mendatang, apakah masih ada ume yang bisa diselamatkan?
Tempat ternak di bawah panggung (vilenggat), juga dinilai ”tidak higeinis”. Faktor agama pun turut mempengaruhi perubahan, sebab pembangunan rumah tradisional selalu dimulai dan diakhiri dengan upacara (songgo) untuk meminta petunjuk dari ruh leluhur, yang dianggap bertentangan dengan ajaran Kristen. Ume Ofa’ Balu’ atau “Rumah-Perahu Besar”, perwujudan budaya Rote, kini terkubur sudah. Gantinya adalah ume leleo rae dan ume leleo’ .
Tempat ternak di bawah panggung (vilenggat), juga dinilai ”tidak higeinis”. Faktor agama pun turut mempengaruhi perubahan, sebab pembangunan rumah tradisional selalu dimulai dan diakhiri dengan upacara (songgo) untuk meminta petunjuk dari ruh leluhur, yang dianggap bertentangan dengan ajaran Kristen. Ume Ofa’ Balu’ atau “Rumah-Perahu Besar”, perwujudan budaya Rote, kini terkubur sudah. Gantinya adalah ume leleo rae dan ume leleo’ .
Pulau Rote, Pulau Ndao serta pulau-pulau disekitarnya terbagi dalam 19  nusa’ (suku).  Di dalam lingkungan nusa’ terdapat kelompok-kelompok kecil kumpulan beberapa keluarga yang memiliki  hubungan kekerabatan (leo). Dari kesembilan belas nusa’, terdapat delapan belas dialek. Di masa lalu terkadang terjadi benturan fisik; pemicunya adalah penguasaan atas sumber air. Untuk mempertahankannya, di Nusa’ Delha, dibangun benteng pertahanan dari batu gunung  setinggi antara tiga sampai empat meter dengan ketebalan dinding sekitar satu setengah meter. Benteng pertahanan ini disebut sebagai kota’.
Tidak diketahui secara pasti, kapan sejarah permukiman berawal di Nusa’ Delha. Menurut tradisi tutur setempat,  permukiman itu  bermula di daerah Inggu Ata, Nemberala. Penduduk pertamanya berasal dari hubungan kekerabatan atau Leo Ombak.  Bukti bahwa mereka adalah bagian dari migran melewati jalur laut, adalah konsep yang sama antara rumah (ume) tradisional dan perahu (ofa’). Bagi mereka ofa’ merupakan hunian di laut dan ume merupakan perahu di darat. Begitulah istilah Delha untuk rumah tradisional  yang besar, yakni; ume ofa’ balu’ (rumah besar seperti perahu besar). Sekarang rumah yang demikian boleh dikatakan sudah tinggal kenangan. Sebaliknya perubahan-perubahan semakin cepat tercatat.



Anoraga, P., 2004, Manajemen Bisnis, Jakarta: Rineka Cipta.
Gibson, J.L, Ivan Cevich and Donelly, 1995. Organisasi dan Manajemen: Perilaku, Struktur, dan Proses.  Terjemahan. Jakarta: Erlangga.
Gibson, J.L, Ivan Cevich and Donelly. 1997. Organization. Binapura Aksara : Jakarta.
Handoko, H., 2000, Manajemen Personalia dan Sumher Daya Manusia. Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta.
Handoko, H., 2001,. Manajemen Sumher Daya Manusia Dan Personalia. Yogyakarta: BPFE UGM.
Mangkunegara,   A.P.,  2001,   Manajemen   Sumber   Daya   Manusia Perusahaan, Remaja Rosdakarya, Bandung.
Mangkunegara,  A.   P.,  2000.  Manajemen  Sumber Daya Manusia Perusahaan. Bandung: PT Remaja Rosadakarya.
Nawawi,  H., 2002. Manajemen Sumber Daya Manusia Untuk Bisnis Yang Kompetitif. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.


Baptisan Selam dan Baptisan Percik

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar belakang
Sebagai perwujudan kemurahan Allah bagi manusia, baptisan merupakan bagian dari ajaran Kristen yang sangat penting dalam memahami penerimaan keampunan dosa, kelahiran kedua kali dan memperoleh kebahagiaan kekal. Namun dalam prakteknya, masih banyak orang Kristen yang tidak mengerti apa yang sesungguhnya tujuan melaksanakan baptisan itu dengan membawa anak-anak mereka untuk menerima baptisan tersebut. Pertentangan yang sering terjadi antara sesama orang Kristen di Dunia pada umunya dan di Indonesia pada khusunya. Para pakar perjanjian baru dan para bapak gereja mendiskusikan kebenaran dari baptis percik dan baptis selam.
Bagi kalangan teologi sering didebatkan dan tidak ditemukan satu jawaban yang sangat pasti mengenai kebenaran akan kedua baptis ini. Hal yang paling ekstrim dan tidak sesuai dengan Firman Tuhan adalah para penganut baptis selam dan baptis percik mereka saling menghakimi dan menentukan kebenaran menurut pemikiran mereka sendiri.  Korban dari perdebatan ini adalah jemaat dan orang kristen yang tidak mengetahui dengan pasti kebenaran kedua baptis ini. Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa para pakar teologi telah membuat sebuah kebingungan dan pertanyaan bagi jemaat. Hal ini wajar karena poa pikir manusia yang satu dengan yang lain memiliki perbedaan.
B.     Tujuan Makalah
Dalam pengertian tentang baptis  yang memiliki perbedaan adalah titik tolak dimana manusia tidak akan pernah puas daan selalu mencari cara untuk memuaskan pikiran dan keinginan mereka. Demikian juga perdebatan yang tak henti-hentinya tentang baptis ini  Masyarakat Kristen pasti memiliki pandangan masing masing mengenai baptis ini. Saya akan menjelaskan  bahwa walaupun terdapat cara baptis yang berbeda pada dasarnya adalah kita telah lahir baru lewat kita yakin, mengimani dan percaya bahwa Yesus Kristus adalah Juruselamat dan Sang Mesias (Yohanes 14:6). Kita yakin bahwa Yesus mati di bukit golgota dan telah bangkit diantara orang mati dan nantinya Yesus juga kan datang kedua kalinya untuk menjemput orang yang percaya kepada Allah.
C.     Ruang Lingkup
Dalam penulisan makalah ini, saya hanya membahas tentang apa itu baptisan dan baptisan menurut salah satu tokoh gereja, yaitu Marthen Luther serta makna baptisan dan pandangan penganut baptis selam dan baptis percik, kontradiksi baptis selam.














BAB II
ISI

A.    Definisi Baptisan
          Istilah baptisan berasal dari bahasa Yunani yaitu “βαπτισμα” (kata benda bentuk nominatif tunggal neuter) yang dapat diartikan dengan kata “baptisan”. Secara etimologi kata ini berasal dari kata dasar “βαπτω” yang mempunyai arti dasarnya ialah saya mewarnai, dan kemudian artinya berkembang menjadi saya membasahi, saya membenamkan. Kata ini juga dapat diartikan dengan saya mencelupkan, membersihkan atau memurnikan melalui pembasuhan.
Pengertian “βαπτώ” yang sering dipakai dalam kekristenan sekarang ini ialah berarti membaptiskan. Sedangkan bentuk infinitip dari kata “βαπτω” ialah kata “βαπτιζειν” yang berarti kata yang menyuruh untuk membaptiskan. Kata “βαπτιζειν” ini menandakan tindakan luar yang kemudian menjadi syarat untuk usaha dari baptisan yang didasarkan pada Kristus. Sedangkan Yesus memakai kata “βαπτιζοντες”  untuk menyuruh murid-muridNya membaptis di dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus[1].Kata “βαπτισμα” ini bukan hanya sekedar pencelupan ke dalam air belaka, namun melalui perantaraan air tersebut maka makna kata baptisan itu telah berubah, misalnya dalam Roma 6:4 kata dibaptiskan telah berubah makna menjadi dikuburkan dan dibangkitkanbersama Kristus. Sedangkan dari Efesus 4:5, kata “βαπτισμα” maknanya menjadi untuk membentuk arti kata yang menunjuk kepada satu kesatuan jemaat.
Arti kata “βαπτισμα” juga bukan hanya menunjuk kepada tindakan/reaksi dalam bentuk dari luar tetapi mencakup tindakan dalam bentuk dari dalam. Tindakan dalam bentuk dari luar ialah dengan adanya penyucian melalui pembaptisan dengan air, sedangkan tindakan dalam bentuk dari dalam ialah dengan adanya pertobatan dan penyucian hati.

B.     Pentingnya Baptisan
·                Kristus dibaptis (Mat 3:16). Walaupun arti baptisanNya berbeda sama sekali dari arti baptisan orang Kristen, namun hal itu mengandung arti bahwa kita mengikuti Tuhan apabila kita dibaptis. Harus disadari, kita tidak akan pernah mampu meniru pribadi yang tidak berdosa; namun kita harus mengikuti langkah-langkahNya, dan baptisan merupakan salah satu langkahNya (1 Petrus 2:21).
·                Tuhan menyetujui murid-muridNya untuk membaptiskan (Yoh 4:1-2).
·                Kristus memerintahkan supaya orang percaya dibaptiskan pada zaman ini (Mat 28:19). Perintah ini jelas bukan hanya untuk para rasul yang mendengarnya, namun untuk para pengikutnya di sepanjang zaman, karena Ia berjanji akan menyertai mereka senantiasa sampai pada kesudahan zaman.
·                Gereja mula-mula sangat mementingkan Baptisan (Kisah 2:38,41; 8:12,13,36,38; 9:18; 10:47,48; 16:15,33; 18:8; 19:5). Gereja mula-mula sama sekali tidak menerima orang percaya yang tetap tidak dibaptiskan.
·                Perjanjian Baru menggunakan ordonansi (upacara yang diperintahkan Tuhan untuk dilaksanakan Gereja) itu untuk menggambarkan atau melambangkan kebenaran teologis yang penting (Rm 6:1-10; Gal 3:27; 1 Ptr 3:21).
·                Penulis surat Ibrani mengatakan Baptisan merupakan suatu Kebenaran yang Mendasar (Ibr 6:1-2). Baptisan bukan lagi merupakan pilihan atau kurang penting bila dibandingkan dengan pengajaran tentang pertobatan, kebangkitan, dan penghakiman.

C.     Baptisan menurut Martin Luther
           Menurut Luther, baptisan bukanlah hasil pikiran manusia, melainkan wahyu dan pemberian Allah. Baptisan tidak bisa dianggap sepele, melainkan harus dipandang sebagai sesuatu yang terbaik dan luhur. Meskipun baptisan merupakan hal lahiriah, namun yang jelas firman dan perintah Allah menetapkannya dan meneguhkannya. Lebih-lebih baptisan itu dilakukan di dalam namaNya. Luther mendirikan pendapatnya di atas Mat. 28:19-20. Dibaptis dalam nama Allah bukanlah dibaptis oleh manusia, melainkan oleh Allah sendiri. Karena itu, walaupun manusia yang melakukannya, baptisan itu benar-benar perbuatan Allah sekaligus. Artinya, jika pun seorang imam atau pendeta melayani sakramen baptisan kudus, sebenarnya Allah sendirilah pelaku utama dalam sakramen tersebut bukan  pendeta.
Luther berpendapat bahwa baptisan bukanlah air biasa saja, melainkan air yang terkandung dalam firman dan perintah Allah serta dikuduskan oleh-Nya. Dengan demikian baptisan tidak lain daripada Allah sendiri; bukan karena air itu lebih istimewa dari segala jenis air yang lain, tetapi karena firman dan perintah Allah yang menyertainya. Jadi, baptisan berbeda dengan air yang lain, bukan karena apa adanya, melainkan karena sesuatu yang lebih mulia menyertainya. Allah sendiri menaruh kemuliaanNya atasNya dan mengalirkan kuasa kuasa dan kekuatan ke dalamnya. Baptisan adalah suatu firman surgawi yang kudus, pujian apapun tidak cukup untuk memuliakannya, karena seluruh kuasa dan kemampuan Allah ada di dalamnya.
         Menurut Luther, tidak ada mutiara yang lebih berharga daripada baptisan. Menurutnya, pemberian-pemberian dalam baptisan begitu banyak dan tak ternilai harganya, antara lain kemenangan atas maut dan iblis, pengampunan dosa, kemurahan Allah, Kristus seutuhnya dan Roh Kudus dengan pemberian-pemberian-Nya. Seseorang yang dibaptis menerima janji akan berbahagia selama-lamanya. Itulah dampak yang dihasilkan oleh perpaduan air dan Firman dalam baptisan, yakni bahwa tubuh dan jiwa memperoleh kesukaan: Firman yang menjadi pegangan jiwa sekaligus akan memberi kesukaan bagi tubuh. Luther kemudian menghubungkan asumsinya dengan Roma 6, yang berbicara seputar topik kematian dan kebangkitan Yesus Kristus. Menurut Luther, baptisan sebagai sakramen yang kudus telah mengikutsertakan kita di dalam kematian dan kebangkitan Yesus.
a.         Baptisan Anak-anak
Sah tidaknya baptisan tidak tergantung pada orang yang dibaptis, demikialah asumsi Luther menanggapi pertanyaan orang-orang tentang baptisan kepada anak. Menurutnya, baptisan bergantung pada Firman yang menyatu dengan air. Siapapun yang dibaptis, Allah berkenan atas baptisan tersebut, sebab memang Allah sendirilah yang menjadi aksiom baptisan. Seperti telah dibahas sebelumnya, Luther mengatakan bahwa baptisan adalah kehendak Allah, bukan kehendak manusia. Oleh sebab itu, baik anak-anak ataupun orang dewasa, jika baptisan itu atas nama Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus, maka baptisan itu adalah sah adanya.[2]
b.        Manusia Lama Sudah Mati, Manusia Baru Hidup Kembali
Bagi Luther, baptisan yang ideal adalah baptisan dengan cara dicelupak ke dalam air. Ketika dicelupkan ke dalam air, air itu melingkupi diri orang yang dibaptis dan kemudian ditarik lagi keluar; berarti mematikan Adam yang Lama dan membangkitkan manusia baru. Luther mengatakan bahwa hal ini harus terjadi terus-menerus sepanjang hidup. Dengan demikian, kehidupan orang Kristen tidak lain daripada baptisan setiap hari.
            Sekali baptisan itu dimulai, maka kita terus-menerus berada di dalamnya. Sebab kita tidak pernah berhenti membersihkan apa-apa yang berasal dari Adam lama; dan apa saja yang termasuk manusia baru harus terus menerus muncul. Yang dimaksud oleh Luther dengan manusia lama adalah apa yang dilahirkan dalam diri kita dari Adam, yakni: amarah, cemar, iri hati, mesum, tamak, malas dan tinggi hati. Oleh karena itu, manakalah kita masuk ke dalam kerajaan Kristus, semua ini mesti makin berkurang dari hari ke hari, sehingga makin hari kita makin lembut, sabar dan rendah hati, serta membuang ketamakan, kebencian, iri hati dan kesombongan. Di mana ada iman beserta buah-buahnya, di sana baptisan bukan merupakan lambang yang samar-samar saja, melainkan benar-benar nyata pengaruhnya. Sebaliknya, tanpa iman baptisan itu hanyalah tanda belaka, tanpa pengaruh apapun.

C.    Makna Baptisan
          Baptisan dan Perjamuan Kudus adalah sakramen yang ditentukan oleh Kristus untuk ditaati orang percaya. Kedua sakramen ini mempunyai makna rohani yang sangat dalam berkaitan dengan apa yang telah Allah kerjakan bagi keselamatan manusia berdosa melalui pribadi Yesus Kristus. Perjamuan Kudus bertalian dengan karya Kristus yang menjadikan diri-Nya sendiri sebagai korban penghapus dosa dunia ini.
Tindakan menebus manusia berdosa menuntut kematian Kristus. Kematian-Nya di atas salib adalah akibat dari menanggung hukuman atas dosa manusia. Sebab itu, setiap kali perjamuan kudus dirayakan, sakramen ini membawa umat beriman untuk mengingat kembali akan tubuh Kristus yang telah dipersembahkan menjadi korban pendamaian dan juga akan darah kudus-Nya yang telah dicurahkan bagi pengampunan manusia berdosa. Jika perjamuan kudus berbicara tentang karya Tuhan Yesus dalam menggenapi rancangan keselamatan yang direncanakan Allah, maka baptisan kudus berbicara mengenai pekerjaan Roh Kudus yang menerapkan atau mengaplikasikan hasil karya penebusan Kristus terhadap orang percaya.      Robert Rayburn mengatakan, “Seperti Perjamuan Kudus melambangkan pekerjaan Kristus, demikian juga baptisan melambangkan pekerjaan dari Roh kudus.” Dalam ordinasi yang pertama Allah berbicara kepada kita tentang darah pembasuh; dalam ordinasi kedua dibicarakan “penyucian kelahiran kembali dan pembaharuan oleh Roh Kudus.”  Jadi, dalam perjamuan kudus fokusnya adalah pada pengorbanan Kristus. Sedangkan dalam baptisan fokusnya adalah pada pelayanan Roh Kudus. Berbicara tentang baptisan, harus diketahui dengan jelas bahwa sakramen ini sama sekali tidak menyelamatkan orang berdosa. Imanlah satu-satunya sarana yang membawa efek keselamatan bagi kita. Rasul Paulus menegaskan bahwa “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman…” (Ef. 2:8; Bdk Rom. 10:9-10). Bagaimana iman dapat timbul dalam hati manusia? Ini terjadi karena pekerjaan Roh Kudus. 

D.   Pandangan penganut Baptis Selam dan Percik
a.       Baptis Percik
         Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa baptisan air adalah suatu tanda kelihatan dari karya Roh Kudus yang tidak kelihatan, yakni pekerjaan-Nya melahir-barukan orang berdosa. Baptisan air melambangkan baptisan Roh Kudus. Dalam Alkitab, air adalah simbol untuk melukiskan Roh Kudus (Yoh. 7:38-39).
Dengan demikian, maka baptisan air adalah lambang untuk menyatakan baptisan Roh Kudus.
         Alkitab juga mencatat bahwa karya Roh Kudus dalam kehidupan manusia selalu digambarkan sebagai ‘turun dari atas’ atau ‘dicurahkan dari atas’. Ketika para rasul mengalami penggenapan nubuat ini, mereka semua dihinggapi oleh “lidah-lidah seperti nyala api” simbol dari Roh Kudus yang turun dari langit (Kis. 2:2-4).Pada saat Tuhan Yesus menerima baptisan air dari Yohanes maka segera setelah itu, Roh Kudus turun ke atas diri-Nya dalam bentuk burung merpati (Mat. 3:16, Mark. 1:10, Luk. 21-22).
b.             Baptisan Selam
          Mereka berkeyakinan bahwa kata Yunani untuk membaptis yaitu “baptizw” (baptizo) atau kata infinitive-nya “baptizein” (baptizein) selalu bermakna utama mencelupkan atau menenggelamkan ke dalam air. Berlandaskan arti hurufiah kata ini, mereka sangat menekankan bahwa makna literal ini dengan sendirinya sudah menunjukkan cara baptisan yang tidak lain adalah dengan diselamkan. Karena tidak bersifat “single-meaning” maka jika kelompok yang memegang baptisan selam telah memakai salah satu maknanya yaitu ‘mencelupkan’ untuk dijadikan penentu metode baptisan, maka golongan yang melaksanakan baptisan percik juga berhak mengambil makna lain dari kata  to wash atau to purify by washing untuk dipakai sebagai penentu cara baptisan.  Pada intinya, arti dari kata “baptizw“ dan “baptizein” tidak bisa menjadi argumentasi yang definitif untuk menentukan satu-satunya cara yang sah dalam pembaptisan. Fakta adanya aneka-arti untuk kata “baptizw“ dan “baptizein” menyatakan bahwa tidaklah memadai jika cara baptisan ditentukan hanya berdasarkan makna literal dari kata aslinya. Kedua, pada beberapa bagian Alkitab, kata “baptizw“ atau “baptizein” yang dipakai sangat jelas tidak mengandung arti menenggelamkan atau mencelupkan. Misalnya, Mark. 7:4, kata yang diterjemahkan oleh LAI sebagai “membersihkan dirinya” dalam bahasa Yunaninya adalah membaptis.
Teks Alkitab lainnya yang dipakai untuk mendukung metode baptisan selam adalah Yoh. 3:23. Dikatakan pada bagian ini bahwa Yohanes membaptis di dekat Salim ‘sebab disitu banyak air.’ Kata banyak air ini dianggap sebagai indikasi tentang baptisan selam. Robert Rayburn berpendapat bahwa sebenarnya itu tidak dimaksudkan demikian. Karena kata aslinya bukan mengatakan ‘banyak air’ tetapi lebih tepat ‘beberapa air’ atau ‘beberapa mata air’.

E.    Kontradiksi baptis selam
Pada hari Pentakosta, terjadi pertobatan massal sebagai respon terhadap khotbah yang diberitakan oleh rasul Petrus. Ada 3.000 orang bertobat dan pada hari itu juga mereka dibaptiskan (Kis. 2:41). Mungkinkah 12 rasul yang ada bisa membaptis orang percaya sebanyak ini dalam satu hari? “Tidak cukup fasilitas untuk membaptis selam 3.000 orang pada hari itu di Yerusalem. Di Yerusalem tidak cukup air untuk membaptis semua ukuran orang. Bahkan dengan hanya 12 rasul yang membaptis, tidak cukup waktu untuk melakukan baptisan selam.

     










BAB III
 PENUTUP

A.     Kesimpulan
          Allah sendirilah yang menjadi dasar dan pelaksana utama dalam Baptisan, bukan manusia. Oleh karena itu, tidak menjadi persoalan tentang siapa orang yang dibaptis, apakah orang dewasa atau anak-anak; sebab jika baptisan tersebut dilaksanakan di dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus, maka sakramen tersebut adalah sah. Seorang yang menerima baptisan berarti telah ikut dalam kematian dan kebangkitan Yesus Kristus.
         Alkitab tidak pernah berbicara tentang cara pembaptisan. Sebab itu, tidak boleh ada satu cara yang dimutlakkan (baik selam atau percik atau pencurahan) dan tidak perlu ada klaim mengenai satu-satunya cara yang sah dalam menjalankan baptisan.
B.     Saran
         Kita harus mengakui bahwa makna baptisan jauh lebih penting dari pada caranya. Persetujuan terhadap statement ini akan menghadirkan sikap yang tolerir (bisa menerima) terhadap cara apa pun yang diterapkan, asal saja baptisan itu memakai unsur air dan dilakukan dalam nama Allah Tri Tunggal: Bapa, Anak dan Roh Kudus (Mat. 28:19).
Setiap orang yang memiliki pengalaman lahir baru, bertobat dan beriman adalah orang yang telah dibaptis oleh Roh Kudus. Selain menjadi tanda, baptisan air yang diterima dengan iman akan berfungsi sebagai meterai yang menyatakan kehadiran Roh Kudus yang memberikan jaminan keselamatan. 
.





DAFTAR PUSTAKA
Xavier Leon, Ensiklopedi Perjanjian Baru, Kanisius, Yogyakarta 1990: hlm. 156.
O. Cullmann, Baptism in The New Testament, SCM Press Ltd., London 1956: hlm. 14.
Oepke, “βαπτω, βαπτιζω, βαπτισμος, βαπτισμα”, dalam TDNT Vol. I, WMB Eerdmands Publishing Company, Michigan t.t.: hlm. 531.
1964 Geoffrey, Chapmann Baptism in the New Testament: A Symposium, London . 1964 .Kerr Jr., Hugh Thomson (ed.).
Oepke, “βαπτω, βαπτιζω, βαπτισμος, βαπτισμα”, dalam TDNT Vol. I, WMB Eerdmands Publishing Company, Michigan t.t.: hlm. 531.
1964 Baptism in the New Testament: A Symposium, London (Geoffrey Chapmann).Kerr Jr., Hugh Thomson (ed.).
1956 Baptism in The New Testament, London (SCM Press Ltd.).End, Van den.
Teologi Dasar 2, Charles Caldwell Ryrie, PBMR ANDI, hal 223-228






Waktu Tuhan Bukan Waktu Kita

 Dalam Buku SMART CHRISTIAN LEADERSHIP , Penulis: F. Boestan , Hal. 10 Menuliskan bahwa Seringkali Tuhan memakai kesengsaraan, penderitaan, ...